Frans Thamura, Best Agnostic Javaman

Android di Pasar Java, bersaing dengan siapa?

Jul 21, 2010 by Frans Thamura

Android has been all over the Jakarta city. Coba keliling seputar tol dalam kota Jakarta, ada iklan mulai dari SonyEricsson Xperia, dilanjutkan dengan merk lokal Nexian Journey A890, disekitar grogol dari pluit ada iklan Samsung Galaxy S.


Ada juga komunitas pemakai Android dibawah id-android yang membernya banyak, tapi belum aktif banget untuk transaksi jual belinya. Biasanya sih nanti akan masuk ke second hand market kalau user-user di Indonesia (terinspirasi IndoWLI).

Sayangnya programmer Android masih belum kedengeran, dibandingkan programmer Java (maklum sudah ada sejak 2001). Tapi ini pertanda menarik, karena logo Java di HP baru muncul diiklan-iklan HP lokal, sebab SE, Nokia, Motorola dan BlackBerry sendiri gak pernah tuh iklan logo Java. Jadi kalau secara iklan, ternyata 2-2nya baru ditahun 2010 ini beriklan.

Dijamin awareness ada teknologi Java di handphone kita-kita ini sangat rendah, apalagi Indonesia termasuk kategori gatek country, dikasih tahu tiap hari aja gak tahu, apalagi gak pernah ada kegiatan.

Ini berita menarik, sebab artinya piranti lunak yang umumnya masuk grade buangan telah menjadi salah satu sarana penyelamatan diri dari persaingan yang semakin keras, kalau di diagram Aaker, ini artinya turun kasta. 

Kalau terus seperti ini, artinya value yang diberikan telco dan handphone as device semakin rendah, atau pemakai semakin ingin lebih. Lihat saja pemakai HP lokal tanpa browser gimana.

Walaupun meeting terakhir dan pernyataan pembuat Java (tahu kan siapa), memperlihatkan chipmaker masih mengontrol adanya semua ini. Vendor Lokal kita masih belum mengerti mengapa dia menjual HPnya ada browser, Java, atau aplikasi sosial seperti eBuddy. Spesifikasi teknis dikalahkan oleh jiwa dagangnya. Tapi yah kita lihat, saat persaingan HP lokal menguat, akan masuk ke kancah tersebut. Nokia saja yang sudah memasukan informasi semua ini, karena business modelnya yang kurang friendly dengan piranti lunak khususnya segment pengembangan, sekarang jadi indanger species. Emotional value terlalu rendah, dan sustainabiliynya kurang bagus.



Lihat diagram diatas, aplikasi on Symbian, tidak masuk. Dan kita juga tidak tahu di Symbian mau kembangkan aplikasi dengan apa? JavaME yang dah oldies, Qt yang merupakan barang baru, atau Flashlite yang sekarang sedang disaingi HTML5.

Yang menarik, kita tahu juga beberapa tahun lalu, Microsoft rajin ke pendidikan, nah sekarang di era mobile, mau kemana.

Yang menarik dari semua ini, ternyata BB, Android, dan JavaME itu menggunakan bahasa pemograman yang sama, hanya teknologi deploymentnya yang berbeda, dan JavaME dan BB seperti sepupuan tetapi tidak sama.

Ada segment lain yang terlupakan, yaitu segment aplikasi desktop, dimana Windows adalah rajanya, dimana Microsoft berjuang developmentnya on .NET.  Sudah tahu MS sendiri mulai promosi logo Java. 2010 memang tahun yang menarik khususnya untuk Java. FYI, Android is not Java tapi menggunakan bahasa Java untuk pengembangan. Welcome to the world of perspective.



Yang menarik, adalah ada logo tomcat dan Java. Microsoft sendiri gak tahukah? atau any reason, apaka Glassfish dg logo ikan, Jonas dg logo ikan paus, JFox dg musang, akan ditaruh distack compute?


Dengan hadirnya Android ditablet, artinya ada pembagian kategori untuk komputer dengan layar 7"-10", dan layar tersebut sama dengan netbook, dan juga tablet. Apakah akan keluar Android yang bekerja dengan keyboard, atau install Android di Netbook.

Maklum kita tahu pemakai Netbook umumnya menggunakan untuk browse internet, presentasi, dan ketik-ketik surat atau buat presentasi, sebuah kerjaan yang kurang lebih mirip dengan tablet.

Berita yang terakhir ramai adalah Windows7 dianggap terlalu berat untuk tablet market, dan sepertinya Android akan naik, sebab ini searah dengan masuknya iOS ke tablet dengan lahirnya iPad.

Jadi segment frontend, terpecah antara PC didesktop, Tablet, Netbook dan telepon genggam yang semakin rich aka smartphone.

Nah ini artinya semakin bervariasi pengembangan solusi di frontend ini, mau yang mana? Padahal mendalami satu saja lumayan makan waktu, apalagi development toolsnya banyak. 

Kalau mendukung Android, desktopnya pakai Swing mungkin dapat menjadi pilihan, karena sama-sama menggunakan bahasa Java, atau yang lebih mantap lainnya adalah SWT dari Eclipse, yang notabene Symbian JRT (Java Run Time), menggunakan eSWT. Ini yang menarik, apakah Eclpse akan menjadi pemain kuat disegment mobile, dan eSWT itu bukan JavaME, jadi logonya berbeda bukan logo Java.

Kita di Meruvian sedang berusaha mengurangi report dari banyaknya pilihan ini dengan membuat project MIDas, itu dari kata MID (Mobile Internet Devices), tapi dikita disebut MID adalah Meruvian Integrated Desktop, nah MIDas itu adalah yang dilayer front, lihat diagramnya.



Dengan melihat kompeksitas dan terlalu banyaknya pilihan, membuat kita harus mulai memiliki jiwa agnostic artinya tidak memilih dan melihat secara lebih jauh kedepan pasar yang akan terbentuk, dan tentu saja, semuanya ingin melock agar tidak bisa lari. Lihat saja model lock dari Apple, buat iPhone harus pakai Mac, dan Objective-C/Cocoa hanya ada di keluarga Mac, Cocoa Touch hanya ada di iPhone, iPod dan iPad. Setiap vendor berusaha mengurangi pilihan, tentu saja hal ini membuat kesenangan kita semakin berkurang, wong orang mau coba gak boleh, ini barang lo atau barang gue, oops iPhone bukan barang kamu, tapi Mac bisa jadi barang kamu (bisa install aplikasi Linux dan Windows kan itu funnya MacOS).

Nah, kalau kita belajar semua, teler, tapi kita bisa merasakan bukan kemana arah persaingan, dan Android menjadi menarik, karena mengisi kelemahan JavaME, khususnya akses ke database (Android menggunakan SQLite), dan Android mengisi celah Tablet, artinya bersaing dengan Swing, .NET tetapi untuk segment yang kurang advanced, karena gak bisa full blown, tetapi apakah benar Anda butuh yang fullblown.

Android itu OpenSource, tapi ada yang bisa install sendiri froyo ke tablet, nah itu PR besar, webnya Android parah sekali. Google terkenal pengembangannya internal dan tidak terkolaborasi, tetapi lisensinya Apache, yang sangat liberal.

So, setelah baca blog ini mau kemana? Investasi TIK menjadi semakin mahal kan.



Codeplex.com , who will use it?

Jul 18, 2010 by Frans Thamura

We did an event (Eclipse DemoCamp) at Microsoft Indonesia, and showing the TFS as first topic, the Team Foundation Server, a collaborative development server in Microsoft World.


I got that TFS is only 400$, and we can see there is Visual Studio Explorer for Eclipse, a new thing on Microsoft. This is because any Microsoft product are extensible. Teamprise develop on that SDK and make Eclipse can work with it.

Strange thing, the product is not FREE.. u can try for 90 days, download it here

Roland, an internship student in Microsoft Indonesia, MIC guy also from ITB, show us the Codeplex. Glad that I found there is SVNBrige in Codeplex, we can use Codeplex using SVN.

But when we try to use the Eclipse Plugins for TFS, we cannot connect to Codeplex, but just plain SVN like usually. 

I just see that Codeplex can be an alternative of SF.net (which we was using it), and our own GForge implementation (UGforge.gunadarma.ac.id), Google Code.

I got that there is security in TFS, and sad we cannot find it in Codeplex.

Anyone using codeplex? I am still thinking this is just for them (Microsoft's programmer)

Enterprise OpenSource di Indonesia, pro and contra dan Komunitas OSS Indonesia

Jul 18, 2010 by Frans Thamura

Kemarin saya menjadi pembicara di sharing pertemuan komunitas OpenSource, yang menurut saya, yah gitulah, Indonesia gitu. Inisiatif kominfo bagus, untuk menggabungkan, tetapi like I said to them.. welcome to chicken head world. Memang suka-gak-suka, for business decision we must work together, but in personal matter, itu mungkin kasus lain. Will the link become reality? but who is the leader that can link? esp now, the OSS become a bunch of market that sound $$$ in global (Indonesia?).


Ternyata ada banyak diskusi menarik yang perlu dishare, diluar dari statement kita-kita terhadap pemerintah, tetapi sayang pertemuan masih membahas goverment market, area yang saya tidak sentuh selama 2 tahun terakhir (wanna to be a leader must focus outside indonesian goverment sector). Walaupun kita tahu ini area basah dan 20% pasar IT Indonesia, ranum dan gurih. Tidak perlu deliverable, cash masuk. Apalagi diera pemerintahan sekarang. Makyus. 

Ada 2 hal yang menarik yang membuat saya memblog, hendak menshare dengan rekan-rekan.

1. Pertanyaan rekan kita dari Rumah Ilmu Indonesia yang kita tahu sedang ke sekolah2 dengan Terra Group (Axioo, C-Gear, VisiPro), mengenai susahnya link negara ini terutama pemerintahnya, kadiknas, DPRD, Kelapa Sekolah, khususnya yang negeri, karena harus dari pusat lah, ini lah itu lah, dan ternyata dealnya banyak yang swasta katanya. Tapi untuk lebih jelasnya silahkan tanya ke empunya, ada di FB saya kok. Saya menjawab, yah betul, harus penuh "miracle" untuk dealing dengan goverment kita. Effort yang besar. RII setahu saya juga salah satu yang buat aktifitas sama dengan kita-kita, diatas 8-an tahun. Apakah formula dealing dengan pemerintah adalah urat panjang 8 tahun, hanya untuk sebuah program kecil. Silahkan baca slide dari rekan kita di Bank Indonesia mengenai sebuah ide dari dicetuskan sampai regulasi min 5 tahun, download materilanya di teknopreneur.com, ICT4 Mobile Forum.

2. Enterprise OSS
Senang bertemu pak Bambang dari SI, diskusi berat mengenai perushaan yang terpublikasi sebagai aktif dalam OSS, walaupun ternyata di Enterprise kita kekurangan SDM yang mengerti selain integrasi, juga patch error. Ini sebuah diskusi yang menarik, bagaimana kita menciptakan sebuah ekosistem dari OSS itu sendiri. Dimana saat ini pihak user (perusahaan pemakai), mau untung sendiri, pakai tapi gak ada contribute, terus kalau error, teler, dan mau murah tapi ... hohoho.. this is enterprise market, support sangat diperlukan. Saya senang ternyata area ini sudah mulai tumbuh, dan glad have a lot of experience.. dan gak kerasa di area Enterprise OSS dah mau 11 tahun. Behavior Enterprise yang terkenal mau banyak, rewel, digabungkan dengan ekosistem Indonesia yang sangat tidak kondusif tetapi penuh peluang, merubah sebuah ide harus menjadi multi companies, menciptakan pasar sendiri yang saya melihat vendor ERP, BIS, atau apapun harus merubah skenario lisensinya, dan juga para pengembang aplikasi harus menciptakan aristektur khusus, tapi ternyata kalau dilihat dari market global, a tinny winny company, bukan hughes big market cap. Tragis yah.

Jadi dapat dikatakan Enterprise market di Indonesia ini complex terutama di area yang SME (sudah tahu Indofood aja termasuk SME lo dibandingkan global solution). multicompanies consolidation, distributed warehouse, async transaction. SDM yang buruk, aristektur sistem yang tidak terintegrasi. Yang notabene mulai ada versi OSSnya, tetapi tidak bisa semuanya OSS. Pressure vendor internasional yg memaksa perusahaan kita berkembang pesat atau dimakan oleh lisensi yang mengunci dan memeras. be Capitalist or acquired.. Hal yang tidak biasa buat perusahaan di Indoensia, yang umumnya owner adalah tangan besi dan bekerja sampai hari akhir, alias diteruskan anaknya, masih family business model yang dipush oleh globalisasi untuk jadi professional company.

Menarik kan, kasus diatas, area kosong yang saya jamin belum disentuh selama 8 tahun ini oleh IGOS, yang terlalu focus ke sosiaslisasi, dan selalu dilevel sosialisasi. Pak Kemal sampai buat point yang menarik mengenai kontra dari program IGOS, yaitu kewarasan. Huahua. So 85 entitas pemerintah kalau digrade dalam implementasi OSS, apakah ini sukses, kita lihat di IOSA. Kalau eGov award saja seperti mainan. Tapi jangan prasangka dulu, kita tunggu.. 8 tahun program OSS, yg juara seperti apa sih. Ditengah pemerintah yang memiliki prioritas masing2 yang katanya sih penting dari sisi mereka.

Yah secara asosiasi AOSI, masih jauh dari sebuah asosiasi, apalagi focusnya terlalu goverment, area yg saya sendiri kurang mau dalami, inget 3 tahun lalu "disuruh" invest pegawai untuk PP80 dan tender. Saya blog ini, untuk mengingatkan keputusan ini salah besar atau tidak. Frans melupakan 20% market IT nasional, idiot or smart. Market yang membuat banyak orang kaya raya tanpa berpikir. Apakah idealisme ini make sense.

Yah, kegiatan yang bagi saya adalah makan-makan dan ketemu 4L (lo lagi lo lagi), tapi saya tidak menemukan the power to push the market... we still have a lot of home works. yang saya percaya akan terpecahkan setelah saya mangkat.





JUG repositioning 2.0

Jul 11, 2010 by Frans Thamura

Menarik sekali, saya baru baca sebuah blog, mengenai JUG Bandung, ini URLnya Dan kalau mau jujur juga, saya menjawabnya meski agak takut tapi kami berharap nantinya akan ada dukungan dari Community Manager dari Sun Oracle yang dijabat oleh mas Alex Budiyanto untuk mengingatkan tentang regenerasi pengurus. Hal ini mungkin menjadi kelebihan JUG Bandung kali ini (semoga)."


Padahal, saya (JUG Indonesia dan JUG ASIA) saat ini bersama-sama dengan SouJava (JUG Brazil terbesar), JUG.ru (JUG Rusia), Van Riper (SW JUG dan JUG-USA), Manfred, serta Max (JUG Afrika), sedang mereposisi JUG, jadi kita ada karena kita yah mau ada aja, huahua, dan regenerasi tidak terikat oleh vendor. Perjuangan beberapa bulan dan diharapkan terjadi meeting besar di San Francisco mengenai masa depan JUG didunia, tepatnya JavaONE 2010. Dimana saya sendiri akan hadir, dan saya percaya itu adalah acara terbesar yang akan saya alami, maklum saya menjabat banyak title, Ace Director, Java Champion, Java Educator Panel member, JEDI, terus juga di Indonesia adalah JENI dan jTechnopreneur. Selain tentu saja JUG rep dari Asia.

Kita mereposisi hubungan kita dengan Oracle, sebagai rekanan, malah Oracle sudah setuju bahwa pengurus JUG dilarang pegawai Oracle, tetapi officialnya tentu saja nunggu proposal dari Jab Dasteel, yaitu Chief Customer Officer yang membawahi Oracle User Group. Yang mantap dari JUG, karena ada 900 kepala suku yang susah diatur didalamnya, memerlukan 3 divisi untuk handlenya. Mantap bro.

JUG Indonesia tentu saja akan mengikuti model ini, karena ini bukan masalah mengikuti tetapi juga leadership kita, bangga sebagai manusia seutuhnya yang bebas sebebas-bebasnya. 

Reposisi ini membuat Oracle adalah rekanan dari JUG, dan JUG Indonesia tentu saja dengan senang hati bermitra dengan OUIC, dan bukan dibawahnya. Sebab kita berdiri jauh hari sebelum Sun sendiri peduli komunitasnya. Jujurnya, pendirian JUG sudah mengajak Sun Indonesia, tetapi Sun menolak, karena mereka tidak ada concern terhadap komunitas, we are purely commercial company, itu statement yang didapat, walaupun akhirnya ada Harry kaligis dkk yang bersentuhan dengan JUG Indonesia. Saya tidak tahu apa hubungan Alex (anak buah HK), dengan pendirian JUG Bandung (padahal ada JUG Geulis yang juga sekarat gerakannya di Bandung).

Tentu saja itu masa lalu, saat ini tugas terberat adalah membantu JUG di negara lain yang sekarat juga, karena aktifitasnya juga mulai menghilang, dan tentu saja ini era globalisasi, kita perlu go global, dan doakan JUG asia dapat tumbuh dan memeperlihatkan cahayanya. Yah itung belajar manage asia, coba kapan lagi orang Indonesia bisa manage asia wide.

So, bagi yang membuat JUG baru, entah dikota mana, area mana, propinsi mana. Berani independent?

Murid yang Menolak atau Standar Sekolah yang buruk

Jul 10, 2010 by Frans Thamura

Sudah lebih dari 6 bulan ini saya diskusi dengan banyak kampus dan juga sekolah-sekolah, dan menarik sekali. Ada beberapa pengalaman yang saya dapatkan dari semua ini, dan kaget bin ajaib, ternyata ini terjadi.


Satu Kampus "B", sang dosen mengatakan sang mahasiswa sudah mabok dengan OOP, tetapi bangga mengajarkan SOA, tetapi lucunya pada saat bicara aristektur disarankan tidak diajarkan ke mahasiswanya, karena OOP aja mabok, dianggap mahasiswanya tidak mampu.

Satu Kampus "SMKN1 di D", mengatakan muridnya menolak program yang lebih baru, sehingga sekolah mengalah dan mengikuti kemauan muridnya. Jadi outputnya adalah pegawai pabrik untuk lulusan sekoalh tersebut. Padahal teori saya, semua manusia adalah sama, dan asal ada standar yang bagus, manusia sebagai makluk yang telah dapat bertahan hidup sejak jaman es, pasti dapat beradaptasi. SEhingga beban seberat apapun pasti bisa. Contoh SMK yang dianggap program yang mustahil, ternyata sekarang kita mendapatkan anak SMK yang super sakti dibandingan mahasiswa dengan IP 3.7. Jadi jangan meremehkan.

Saya melihat beberapa sekolah disekitar saya tinggal ada yang memasang standar supertinggi dan uang sekolah supermahal, dan ternyata laku dan penuh, dan anaknya mampu. Tetapi 2 kasus diatas terjadi, yang notabene malah Kampus "B" adalah kampus swasta terbaik di negara ini (konon).

Maklum saya sekarang sedang dalam krisis kepercayaan terhadap lulusan S1 dan D3/4 dari keahlian praktis dan juga keahlian bekerja. Konon mereka diciptakan untuk kerja di lab riset, tetapi saya kasih riset juga, gak kelar-kelar sangat sering terjadi, sampai Pak Heru memberikan teori 3%, artinya hanya 3% maksimum yang proactive, dan sisanya gak jelas, dan diharapkan 3% dari 3% ini yang bagus. Tetapi apakah yang terbaik ini akan bersama kita, saya jamin tidak akan, apalagi negara ini suka banget dengan kerja diluar negeri, seberapa rendah dan tidak strategisnya pekerjaan tersebut, Kalau perlu di luar negeri, jadi pembokat jadi lah. Ilmu yang diinvestasikan dibuang gak penting, yang penting luar negeri.

Padahal kita kalau mau maju, harus memiliki sebuah baseline target standar yang diinginkan, tetapi ternyata saya baru tahu, banyak institusi yang target standarnya adalah capital, alias nilai uang yang masuk, bukan dari seberapa bagus atau berkualitas.

Ada ide dengan fenomena yang terjadi, no money = useless, high quality tapi no money juga useless. GIla kan kalau pendidikan kita berpola pikir seperti ini, saya percaya gara-gara pendidikan kita berpola pikir seperti ini, makanya deindustrialisasi adalah hal paling tepat buat negara ini. 

Agent Modeling Platform

Jul 10, 2010 by Frans Thamura

Wah eclipse sekarang ada Agent, bisa buat hiperboid gitu deh, keren nih.. coba deh .




juga versi 3D-nya



Nah ini AMP URLnya, http://www.eclipse.org/amp/installing/updates.php


Globalisasi dan Akusisi

Jul 10, 2010 by Frans Thamura

Sepertinya saya sering banget memblog kata go global. Padahal kita tahu pemerintah kita saat ini sangat tidak mendukung pengusaha lokal, malah tanda-tanda membunuhnya sangat kuat. Pemuja merk asing yang kebelinger, itu sebutan saya.


Tapi dasar sifat dasar manusia, yang sudah terbukti dapat beradaptasi dengan segala situasi, sekarang ternyata berbondong-bondong perusahaan lokal menjadi bagian dari perusahaan asing. Sang naga teknologi informasi, Datamation baru saja jadi AVnet, yang IPO di NYSE. Ini menarik, kita kenal Datamation yang telah membuat HP itu seperti principle yang bertekuk lutut, dan sang owner, salah satu dan mungkin satu-satunya yang mengerti pentingnya software dalam dunia teknologi informasi, dibandingkan dengan kompetitornya yang lebih ke box mover dan pemain partai. Lelucon buat yang lain adalah, kalau usaha IT nya tutup, buka toko baju, atau toko kaca mata, karena itu semua dalam satu kategori trading. Thx, sekarang harga hardware makin murah, sehingga content menjadi sangat penting, dan ini artinya jaman era piranti lunak sudah dimulai..

Saya sedang mencari produk lokal yang go global, dan malah jadi market leader didunia lain, setahu saya baru Wings yang saya lihat kuat, tentu saja ada Dynaplast, Indofood, Kalbe, tetapi sayangnya yang teknologi sektor belum. Malah akusisi Datamation oleh AvNet mengagetkan saya. Sebab Datamation itu kan mbahnya enterprise server khususnya HP.

Saya mengenai Datamation sejak 1996, saat itu Gary memperkenalkan produk yang dijual, terus kenalan dengan satu perusahaan (lupa namanya), yang pegang MDaemon dan Lotus Organizer. wow so long yah.

Saya melihat peta dunia industri sekarang berubah, dipisah dari personal brand (community leader yang based on country), dan global player yang berantem. Apakah ini artinya regulasi pemerintah kita ditekan oleh perusahaan besar, saya pengen tahu kekuatan asosisasi terhadap pemerintah dengan model regional based company ini. Wishing can be part of them....


Magang di Meruvian Angkatan 2010

Jul 08, 2010 by Frans Thamura

Magang tahun ini sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dan juga output keilmuan anak-anak magang dah berbeda suasananya, apalagi dibandingkan 2003 saat Ratih dan Erwin datang ke Intercitra. Jauh banget. Ini artinya Indonesia telah lebih maju.


Dulu datang bawa komputer, malah tidak jarang yang belajar install Windows dulu, huahua, dan Linux, belajar Java, dan umumnya banyak yang setelah 2 batch (VEDC model magangnya 4 bulan x 3).

Sekarang framework sudah menjadi ilmu jauh hari sebelum magang, dan yang menarik dulu mahasiswa prakerin tingkat 2-3 atau yang skripsi. Sekarang siswa SMK kelas 2.

Tahun 2010, ini yang datang ujibileh banyaknya, total yang confirm adalah 130, dibagi menjadi 3 batch, dan batch 1 baru datang, dan ini juga magang istimewa, karena kita menggunakan Town House Gunadarma di Taman Puspa, dan juga program magang sekarang, ada 2 tim yang tandem dengan three-party model, yaitu Industri-Kampus-SMK, dimana Industrinya sudah lebih dari 2 tentu saja. Untuk tim EGov bareng dengan Kominfo SIPLK, dan untuk tim Syariah dengan pak Gatot dari CIMB Niaga Syariah. Ada juga bantuan dari Hendrie, teman kuliah saya dan juga Manager Solusi Schlumberer USA. Ini yang di Taman Puspa saya.

Berikut adalah Camp kita, yang satu lagi sedang renovasi, jadi diberitakan nanti yah.



berikut adalah foto-foto anaknya, dan magang sekarang, saking banyaknya kita pisah 2 team, co dan cw. terkesan genderisme yah, oh jangan kaget, itu kepala suku khusus handle camp, karena sekarang camp co dan cw dipisah.

Berikut Kepala Suku Gang Cowok.



Berikut Kepala Suku Gang Cewek



dan berikut adalah senior yang telah lulus yang "dipaksa" untuk membina juniornya, pautan mereka adalah 2 th.



Ini diluar team senior yang telah ada di Meruvian, yang siap membantu anak Magang ini menjadi generasi muda masa depan bangsa.


Berikut adalah siswa-siswa yang dibriefing di IBC Gunadarma. Maklum anak-anak ini semua (yg terpilih tentu saja), akan masuk program beasiswa Gunadarma/Meruvian.






Berikut adalah tim Briefing, dan sedihnya mata saya sedang tertutup, seperti terkesan tidur huahua..




Kami membuka diri untuk industri lain untuk berpartisipasi, dan juga SMK lain untuk berpartisipasi, dan juga Kampus lain untuk berpartisipasi. Mari kita bersama-sama membuat lebih baik, khususnya di tengah caruk maruk pendidikan kita. Siapa lagi yang akan membenahi kalau bukan kita sendiri.. 

Globalisasi 2.0, Pengalaman dari ODTUG 2010. dan Sekilas mengenai keluarga Chen.

Jul 05, 2010 by Frans Thamura

Baru saja bangun tidur, dan sepertinya ada hutang ngeblog mengenai apa yang dialami minggu ini. Yah kaki pegel-pegel karena muter 2 balik dari Capital Hill sampai Lincoln, dan foto segera yah..

Banyak hal menarik yang terjadi, dan ternyata part of global semakin murah. Apalagi setelah Andrejus mendapatkan project di Texas, dia harus 1 bulan di Texas, sebelum kembali ke Lithuania bulan depan, dan terus ketemu lagi dengan kita kita para Ace Director di San Fransisco akhir bulan September ini. Lithuania memiliki kasus mirip Indonesia, tentu saja dengan lebih sedikit penduduk dan beberapa hal yang lebih eksotis dari wanita hingga kulturnya..

Dulu, paman saya bercerita mimpi kakek untuk ke Amerika, dan memiliki pabrik sepatu, maklum beliau adalah tukang semir sepatu di kota kecil bernama Mei Sien, dekat Guang Zhou. Merantau ke tanah nunun jauh di tenggara, maklum tahun itu kan belum ada nama-nama negara, seperti Malaysia, Indonesia.. ke tanah harapan yang lebih baik, ditengah perang yang tidak jelas. Amerika sudah terlalu maju, dan keahliannya kurang untuk bersaing disana.

Kemudian, beliau memiliki anak 7 anak, dan dari anaknya yang ke-2 sampai terakhir kecuali yang ke-6, semuanya telah menjadi part of global. Emilia di Singapore, Susan di San Francisco, Imelda di Los Angeles. Mostly adik San-san lulusan Amerika, dan semua adik Imelda lulusan Amerika, dan Anak dari anak terakhir (Papang), lulusan luar, malah SD-SMA di Singapore.

Saya terlahir dari keluarga yang mungkin ekonomi lebih rendah, dan omelan uang saku yang kurang, terus membayangi saya, padahal sudah 17 tahun berlalu. Sehingga membuat saya harus bekerja. Mimpi go out side hampir terealisasi 2001, dengan hampir hengkang ke sydney, Australia. SEmua hasil kerja selama 10 tahun, ternyata habis sudah, tersisa satu lembar deposito yang akhirnya juga habis digunakan untuk operasional Intercitra, dan kabar beritanya, sekarang sudah mulai bosen juga mengunjungi Amerika. nothing special ternyata, malah makanannya yang western, membuat saya harus tiap hari masuk ke depo buang air lebih dari 6 kali, karena mules, ternyata ini perut susah juga beradaptasi dengan ini semua. The body contraction disorder? Jadi, sekarang, untuk kenegara manapun, tidak perlu anak orang kaya lagi loh...siapapun bisa.

Plus kerjaan kecil dari rekan di Malaysia di Android, lengkap sudah, ternyata world is changing rapidly, jadi kasus ke Amerika atau ke negara manapun ternyata sekarang bisa untuk siapa saja, dan kita part of Global. Ini sebuah persepsi yang harus kita sebarkan dan gaungkan ke semua orang, terutama untuk negara yang kerjanya ngedumel bernama Indonesia. Jujur, saya tipe pendumel, ternyata itu SALAH Besar.. Doakan anak Meruvian kita go regional shortly yah.. sudah tahu kan background Meruvian... :)

Apalagi tahun kemarin di New Orleand, Hajo menjelaskan mengenai music Jazz, dan mengapa saya harus adaptasi, walaupun jujur aja agak asing ini lagu (saya bukan penggemar lagu), termasuk juga makan malam dengan Lonneke, Mike, dan beberapa leader IT di Eropa, baik topiknya investasi, marketshare, dan juga makan malam yang super mahal (kita makan malam daging buaya). FYI, Hajo memiliki keluarga yang agak konservatif, dan kaget saat dia membawa wanita thailand menjadi istrinya, semua keluarganya bingung, terutama orang tuanya, yang sudah terbiasa hidup nyaman dengan kultur Jerman. Ternyata ada orang lain didunia sana yang berbeda, dan sekarang part of their family.

Ternyata apa yang dibicarakan di New Orleans terjadi juga, Simpson, Ace Director dari Slovakia, yang mengatakan mengenai bahasa inggris sekarang sangat diperlukan untuk komunikasi.

Dari semua ini kalau dikilas baik, ternyata pola hidup, cara memandang kita semua berbeda. Saya akuir para bule ini lebih maju, terutama mengenai kultur bekerja diberbagai negara, sampai lintas benua. Rekan Andrejus dari Romania sekarang di Afrika Selatan, Paul Dorsey memiliki kantor di Afrika, Basheer punya kantor di Malaysia, Lonneke di Singapura. Kerjaan lintas negara adalah hal biasa.

Tentu saja ini semua karena izin mengunjungi negara-negara itu semakin mudah, berbeda dengan kita, yang dari Indonesia, termasuk saya sendiri yang harus masuk Alien Investigastion sekarang Second Investigation. Ini adalah step melelahkan bagi mereka yang baru ke Amerika, untung saya sering, jadi sekarang cape dingantri saja, tapi gak ada proses lain yang merepotkan. Membicarakan Second Investigation, ternyata hal ini terjadi juga untuk teman saya bernama Lie Tjien, warga Jakarta yang sekarang telah tinggal dan menjadi warga negara CAnada, ternyata masih masuk second investigation, karena dulu warga negara indonesia yang pernah menunjungi Amerika. Kasus seperti ini dan juga kasus FISKAL oleh pemerintah kita yang terkenal mengganggu hidup warganya, adalah contoh yang membuat pola pikir kita, melihat bisa mengunjungi Jakarta adalah HEBAT. Padahal diluar sana, mengunjungi negara lain adalah hal biasa..

Andrejus kemarin satu mobil dengan saya ke Dulles, salah satu airport di Washington. Mengatakan mengenai Lithuania, pemerintahnya yang tidak friendly, dan sebuah blog gratis yang membuat dia bisa go global, dan bertemu kita semua, dan mendapat proyek di Amerika, Afrika, Eropa. Yah ini juga karena izin visa mengunjungi daerah ini semua hanya butuh sebuah email.

Anyway, para Ace Director sedang siap2 mengunjungi Indonesia, dan mereview apa yang Meruvian kerjakan, terutama untuk orang Indonesia, yang notabene di mata mereka adalah sebuah hal menarik, maklum GDP kita dengan mereka sudah berbeda, gaji sudah berbeda, dan juga ternyata mereka banyak yang protes pajak yang terlalu tinggi disana.

Yang menarik, kerja sosial harus ada didalam CV/Resume hampir semua orang di negara maju, bandingkan dengan negara kita yang "semakin suka" bukan bersosial tapi lebih mengabuse. So, sudahkan Anda memasukan kegiatan sosial anda kedalam CV anda?

Menarik kan, semua pola pikir ini, dan saya termasuk beruntung dapat duduk, makan, share dengan para Ace Director yang mostly adalah owner dan founder perusahaannya. Jadi didunia Ace Director, kita tidak hanya membahas mengenai Fusion Middleware saja, tetapi yang menarik adalah PAJAK, dan Pemerintah. Walaupun banyak yang sangat tidak suka membahas politik, dan mau focus dengan kerjaannya.

Get ready to go Global? Skillset is the foundation of those.

Programmer Mobile di USA

Jun 22, 2010 by Frans Thamura

ini data mengenai mobile trend di USA.


According to Mobile Mix Survey, conducted in May by advertising agency Millennial Media, 56% of all developers in the USA write software for Apple?s mobile platform iOS. This is almost as twice as more than Google?s Android developers. 5% goes to Nokia?s Symbian and 4% of devs work on software for RIM?s BlackBerry OS.

But there are more surprising facts unveiled in the survey.

  • 9 of 10 developers write their apps for only one exclusive platform, and only the remaining one writes software for multiple operational systems.
  • Apple?s iPhone is the most popular handset on Millennial Media?s network. It is followed by RIM?s BlackBerry Curve (7.92%) and Google Nexus One (3.94).
  • Request for the Apple?s iPad on the company?s network grew 160% month-over-month, for Android-devices ? increased 15% in May.

Millennial Media?s data is pretty precise as the agency is the biggest after AdMob and covers with its network over 59,6 million users, which make 82% of the mobile Web, according to Nelson.




http://iphoneroot.com/56-of-u-s-developers-create-apps-for-apples-ios/#more-7780

Akhir dari Era J, sebuah branding case

Jun 20, 2010 by Frans Thamura

Besok, adalah resmi 9 tahun saya mengelola proyek OpenSource bernama CImande, yang kemudian meningkat menjadi BlueOxygen, dan menjadi material pembelajaran di pendidikan Indonesia, dan sampai hari ini, blum ada perusahaan lokal yang mengikuti model bisnisnya. Padahal tahun ini, saya merasakan adalah akhir dari Era J, artinya produk-produk dengan huruf J diawalnya, adalah tidak make sense untuk di branding. Kharisma Java telah masuk ke level terendah yang pernah ada. Tentu saja ini searah dengan kepercayaan public terhadap bagaimana vendor-vendor kapitalis mengelola komunitas dan melihat OpenSource bekerja. Kecenderungan leadernya atau pendirinya dianggap enemy of the state sangat tinggi. Hal ini terjadi diseantero dunia ternyata, dan tentu saja untuk negara dengan regulasi tumpang tindih, enemy of the statenya makin kuat, sebab mulai dari pendidik sampai country manager memasukan posisi ini sebagai anak macam yang akan menerkam majikannya.


Android, Blackberry adalah teknologi yang sangat dekat dengan Java, dan tidak menggunakan kata j didepannya. Malah standarnya tidak compliance ke JCP, sebuah institusi ajaib, bekerja seperti layaknya Organisasi ISO, W3C, tetapi tidak independent. JCP ternyata sebuah divisi dibawah Sun yang sekarang milik Oracle. Banyak konspirasi terjadi selama satu dekade ini, dan ternyata public tidak bodoh, dan banyak yang diajukan menjadi kenangan semata. Maklum mekanisme pengajuan standarnya agak aneh, sehingga sempat dikecam sana sini. SIlahkan simak bagaimana JCP 2.x terjadi dan yang paling concern tentu saja Apache Foundation.

Jaman JavaEE, saat JBoss menjadi topik pembicaraan, dimana awalnya adalah EJBoss, tetapi karena kata EJB adalah merk dagang Sun, maka diganti jadi JBoss. Berbondong setiap orang membuat solusi dengan kata J, Era J dimulai, dari JRockit oleh Bea, Jonas, JBPM. Semua berusaha mengambil celah kosong yang tidak ada. Hibernate menjadi JPA, Spring menjadi JBCI. Semua di J-kan.

Tetapi Google datang sebagai kuda hitam dunia mobile, dengan produk Android, yang notabene pengembangannya menggunakan Java, dan dahsyatnya tidak dibawah JCP, malah tidak ada hubungan sama sekali, dibentuk dibawah OHA (Open Handheld Alliance), sayangnya OHA masih terlalu premature, dan saya melihat akan ada masalah baru yang muncul di Android, karena spesifikasinya kurang kuat, dan di deploy di banyak piranti begerak, ini sih tanda-tanda programmer Android akan tidak bisa tidur nyenyak. Saat ini vendor mobile phone masih asal install, paling HTC yang mengembangkan HTC Sense, tetapi perjalanan waktu akan membuat lahir Android derivative, seperti layaknya JavaME menjadi BlackBerry (dulu sempat Motorla dan Nokia mengikuti arah ini, tetapi mereka akhirnya menstop dan mengikuti standard JavaME dari JCP, dan saya melihat ini lah awal kematian JavaME). JavaME menjadi sangat birokratik dan mengutamakan voting antar pakar daripada dinamisasinya kehidupan. Maklum Google gak punya pengalaman dalam pengembangan mobile phone sendiri dan menjualnya. Apple-lah yang diuntungkan dengan ini semua. Tetapi Apple harganya terlalu mahal, sehingga segment dibawah Apple terlalu besar dan ini sangat menarik.

Saya melihat kharisma JavaEE tetap ada sampai beberapa tahun, tetapi akan bergeser menjadi non J, terhadap sesuatu yang kita sendiri belum tahu, tetapi akan terjadi. Kecuali ORacle dapat merestrukturisasi JCP menjadi divisi yang lebih baik tidak kolot seperti Sun mengelolanya, atau membiarkannya independent, dan merangkul OHA. Tapi apakah ini bisa terjadi, kalau terjadi, gila ini. Java akan jadi legenda teknologi informasi yang lebih gila daripada saat ini yang dapat dikatakan adalah PC-nya piranti lunak. Inget IBM membuat PC compatible, terus IBM pertama yang tutup, dan terjadi di Sun.

Sebenarnya apa sih beda antara menggunakan J dan tidak, ini sebenarnya hanya sisi branding, teknologinya sih sama saja. jCimande dengan Cimande, apa bedanya, wong hanya branding.. Maklum kita menggunakan J, karena kharisma Java yang tinggi. Sekarang sepertinya ada merging teknologi berbasis virtualisasi, dan Java lead di area ini, dan secara opini solusi jXXX tidak menjual dalam dunia Cloud ini. Ini artinya kata J memiliki kata baru yaitu VE (Virtual Edition), atau Cloud.

Dalam stack BlueOxygen, ini terjadi merging dari layer application container sampai sistem operasi, sehingga Java yang berada diatas sistem operasi sampai container, tereliminasi secara persepsi integrasi.

Saya senang dalam era pergeseran ini, telah berpartisipasi, walaupun segment pasarnya tidak mendapatkannya, maklum tinggal dinegara yang memang diciptakan kita kerdil seterusnya. Apalagi bagi mereka yang terlahir tidak ada modal usaha. Senangnya, saya TELAH bukan AKAN..

Sebuah challange masuk ke era ke-2 dari transformasi solusi, dan beruntung dari awal branding program kita tidak dimasukan kata J, kecuali tentu saja program jtechnopreneur kita.

Bagaimana dengan Anda? sudah atau akan terhadap persaingan dan perubahaan diatas?


Kata Akan dan Sudah

Jun 19, 2010 by Frans Thamura

Saya tipe orang yg teriak-teriak, yang konon terlalu suka mengkritisi, walaupun beberapa sudah mengatakan the message telah masuk, dan yang menarik telah diterimanya message yang diutarakan, ini setelah ditolak banyak pihak, karena di negara ini, personal style lebih penting dari contentnya. Yang menarik message adalah sesuatu yang harus dilakukan terhadap yang akan terjadi. Akan itu artinya belum terjadi. Tetapi yang menarik dikaji nun jauh didunia lain, alias 1/2 bumi dari Indonesia, semua hal ini telah lewat, alias the message telah diextend menjadi sesuatu, yang menciptakan the massage ke-2.


Contoh. Siapa yang sudah mendalami power of Java, apa masih ribut susahnya Java dengan keahlian VB6. Kapan yah VB6 patch terakhir direlease? padahal didunia lain, kita sudah masuk ke cloud, mendeploy Java diatasnya dengan MVP bukan MVC. Terus malah sudah ada teknologi yang lebih baru yang seperti Java ini mulai dari V8, Dalvik, sampai extension C/C++ ke OOP yaitu Objective-C yang juga telah diextend, yaitu Cocoa Touch. Semua telah kan.. malah Apple Store telah ada 100.000 aplikasi yang tentu saja dikembangkan dengan Cocoa Touch ini. Semau Telah..

Padahal saat ini status disekitar kita adalah akan. Diknas akan memasukan kurikulum Java, Politeknik sedang mempersiapkan SDM (Dosen) untuk belajar Java, sehingga dapat memasukan ke kurikulumnya, dan ini artinya akan masuk kurikulumnya. Guru-guru pusing dengan SKKD 2010, karena akan memasukan ini semua ke mata pelajaran.

Mengapa kita hidup didunia akan dan bukan sudah?

Power of Human Interface to Lead The World

Jun 19, 2010 by Frans Thamura

Beberapa minggu ini, saya banyak sekali diskusi mengenai pasar Android yang datang menghajar habis JavaME yang notabene adalah market leader. Yang sakti, tidak ada satupun action berarti dari team JavaME selama ini, MIDP 3.0 seperti hilang ditelan bumi. Inovasi terhenti sejak berita Sun diakusisi Oracle, dan kasus Anti Trust yang dikumandangkan oleh Uni Eropa ke Oracle prihal Sun ini.


Belum lagi serangan iPhone yang notabene sepertinya estetikanya tidak dapat dinikmati oleh manusia-manusia yang tinggal di Indonesia secara umum, hanya segelintir yang menggunakannya, dan tentu saja mereka yang di strata ekonomi atas. Apple telah terlalu lama melakukan investasi di estetika dan lifestye, dimulai dari iMac, iBook sampai iPod, sampai muncul pemakai fanatic bukan karena dia lebih hebat, tetapi dia lebih cantik. Yang lebih sakti adalah karena semua tertuang dalam User Interface sistem operasinya yang dikembangkan secara private. iPad gadungan tidak akan dapat ditemukan dipasar tanpa sistem operas iOS, belum lagi dengan prosesor yang dikembangkannya yaitu A4, walaupun Samsung memilikinya yaitu S5 yang notabene adalah kembarannya. Samsung tidak memiliki sistem operasi, kalaupun ada Bada, itu bukan iOS atau Mac. Selain itu komunitas pengembangnya tidak kuat.

Android datang sebagai segment lain dari piranti bergerak, menggalang komunitas pengembang Java kedalam Android, menendang keras JavaME menjadi pencundang dalam dunia piranti bergerak yang sudah lebih dari satu dekade dikuasainya. Mahkota JavaME hanya diarak oleh BlackBerry, tetapi hati-hati, ini JavaME yang berbeda dengan JavaME yang diciptakan. BlackBerry telah memodifikasinya, ini teknologi yang tidak jelas antara JavaSE atau JavaME atau JustBB Java. Android dan BB memasuki pasar pengembang Java yang notabene superbesar sampai 10 juta programmer, apalagi market enterprise Java telah masuk legenda, belum lagi Java telah menjadi sebuah teknologi yang paling kuat di area Cloud Computing.

Segment Pasar Java sangat luas dari pemakai personal sampai giga-hit dotcom, dan kebanggan terbesar adalah teknologi yang diolok-olok lambat, karena jalan di virtulisasi, telah menjadi default teknologi untuk apapun. Jangan kaget iPhone yang maju dengan Objective-C, ternyata juga sebuah teknologi yang mirip BlackBerry dan Android, yaitu jalan di virtualisasi, jalan di LLVM (Low Level Virtual Machine), yang ditemukan hampir disemua sistem operasi. Tetapi Apple telah menciptakan sebuah API yang membuatnya berbeda, yaitu Cocoa Framework, hal yang sama yang diciptakan BlackBerry terhadap JavaME dan Android terhadap Linux dengan Dalviknya.

Semua pihak menciptakan VALUE dari sesuatu yang mereka ciptakan, dan lead the world di areanya masing. Kenyamanan Push Mail BlackBerry tidak akan ditemukan di Android. Keindahan Human Interface iPhone tidak akan ditemukan di piranti lunak lainnya. Betul sekali, sebuah bungkus khusus diciptakan dalam pengembangan produk. Ini sebuah permainan peperangan yang lebih complex dalam mengimplementasikan Sun Tzu. 

Saya termasuk orang yang sampai hari ini masih tidak mengerti mengapa saya membeli Mac, dan belum melihat value dari Mac. Wong ini propietary. Tapi ternyata saya membayarnya terlalu mahal untuk sebuah Aqua button. Sebuah segmen yang Linuxer tidak dapat lawan, sebuah services value yang tidak ada di pasar yang dimiliki oleh Windows dan Linux. Sehingga dapat dikatakan pasarnya Apple, Windows dan Linux sebenarnya berbeda. Notabene konspirasi MacOS  + iPhone dg iOS + iTunes adalah sebuah karya yang semua orang harus berpikir 1000x untuk melawannya, jauh lebih lock-in daripada semua Microsoft solution yang terintegrasi.

Dari semua ini saya yakin dengan kesimpulan saya, setiap segment ini layak investasi, dan ada satu segmen yang menyambar semua area. benar itu adalah MICROSOFT. Microsoft adalah perusahaan yang menyambar semua segmen dan tidak ada niche marketnya selain Desktop, yang notabene Desktopnya juga diantara Linux yang murah dan powerfull dan MacOS yang lebih indah. Tapi hati-hati Mac dan Linux menshare teknologi bersama. Thx to BSD didalam Mac yang membuat inovasi berjalan mulus di Mac dan Linux, tapi Windows. Apakah ERA Microsoft telah hilang. 

Linux dimaafkan pasarnya karena GRATIS. Mac dimaafkan karena ekslusifitasnya. 

Dalam dunia globalisasi, semua diatas memiliki pasarnya sendiri. Jadi bilamana kita hanya bagian dari Indonesia, jelas kita dapat dikatakan KUDA yang telah ditutup matanya. 

Saya menyimpulkan iPhone market itu kuat sekali, amazingly propietary, tapi indah yang dikumandangkan Apple secara global memiliki pasar. Jadi jelas kan mengapa Apple sekarang market capnya lebih tinggi dari Microsoft. Segment BlackBerry kuat di push mail, tetapi dengan program pemanjaan programmer yang tidak bagus, BB akan mandek, sorry dude. Android akan terus naik pasarnya, dan thx to Google yang me-release SDKnya untuk programmer lebih dulu daripada barangnya, sehingga kasta programmer di Android lebih tinggi daripada di dunia lain. Java akan terus berkumandang di area Cloud. 

Yang menarik semua teknologi selain Apple punya, adalah Open System. Memang seni itu propietary, lukisan tidak bisa sama dan mahal, walaupun terkadang lukisannya dianggap sangat buruk oleh pihak lain. TApi sekarang jamannya so what gitu. Dunia So What Apple mirip dengan dunia Atheis yang dilarang dinegara ini, tetapi akan menjadi segmen tersendiri didunia Internet. no one can eliminate it. iPhone dilarang membesar oleh Telkomsel, tapi sadar dude, pasar mobile Indonesia hanya no. 4 sekitar 170-juta vs 4 miliar global. Still Chicken. Semoga blog ini menyadarkan para telco company esp mobile telco dari tidur lamanya. Sudah bukan saatnya berjalan sendiri dengan pasar yang terus terkomoditas, dan tidak membuat link program antara U and US. U will dead end like JavaME.

Saya malah melihat this new market itu lebih besar dari apapun, dan apakah stay di Indonesia dengan regulasi yang tumpang tindih adalah ideal? Yes DUDE. Message me if u want to know more.


Value (vs Harga).. Objective-C, Cocoa dan Apple Market Cap, setelah ngeMac

Jun 07, 2010 by Frans Thamura

Telah 2 minggu saya ber-Mac ria, ini juga gara-gara Wendy push ke iPhone, dan yah ini sudah 2 bulan lebih berhubungan dengan Objective-C, khususnya Cocoa Touch.


Banyak hal yang saya dapatan mengenai barang yang ter-cult ini. Hal pertama yang menarik mengenai berhubungan dengan Apple adalah estetika, dan material yang diutamakan olehnya adalah Human Interface Design, ini menarik, sebab panduan human interfacenya lengkap, Ini URLnya untuk Human Interface Guide

Salah satu yang sangat berguna adalah



Hanya beda border dan tidak ada border, ada banyak yang tertulis disana.


Yang lebih seru lagi, Sudah tahu marketcap-nya Apple mengalahkan Microsoft, ini artinya Apple sangat berharga, dan hanya 1 level dibawah Exxon.

Ini Chartnya Apple vs Microsoft vs Oracle.





Padahal kita tahu Apple sekarang sangat propietary didunia iPhone, iPad dan iPod, sampai teman lama Adobe yang memiliki Flash (hasil membeli Macromedia), tidak dikasih masuk ke iPhone World. Sangat strict. Maklum pengalaman buruk selama beberapa dekade membuat Apple keras didunia embeded. Yang notabene, karena itu saya membeli Mac.. Coba bisa buat iPhone apps on XCode, gak akan beli lah.

Secara experience, awal2 teman-teman yang sudah ngeMac bilang, banyak hidden jewel, tapi as Frans, ternyata sama aja.. Yang menyenangkan sih, sudah ada Java didalamnya dan bisa pilih 64bit atau 32bit. Aplikasi propietary dan OpenSource masuk semua. oh iya, saya beli mac book ini 7.9 juta. Ada yang penting, Macbook tidak panas, walaupun Dual Core, dan tentu saja, sesuai saran Mbah DJony, jangan sering2 ngeFlash, karena prosesor kerja extra dan jadi berisik. Agak narsis juga, kita menjadi pencinta kesunyian (so elegan), padahal pompa air disebelah saya kerja, berisiknya beberapa kali kipas notebook conventional.

Menarik sekali, karena Adobe product, Eclipse, Java bisa jalan semua, dan yang tidak bisa jalan di semua OS dan hanya di Mac adalah XCode plus iPhone SDK, ini alasan kenapa saya coba Mac.

Yang lebih menarik dari itu semua, ribut ribut 1 bulan ini, Apple akan mengalahkan Microsoft secara market cap, ternyata jadi kenyataan.. Saya gak bisa bayangkan sang capitalis bernama Steve Ballmer ditelp Steve Job, gimana yah. PAsti ada telp atau SMS, bro lo sekarang under me dude... Padahal AOL konon dulu mau beli Apple... maklum Apple sempat sekarat.

Sudah tahu XCode 3.0 itu ada WebObject plugins, jadi kita bisa buat aplikasi Java Enterprise disana, tetapi yang baru gak ada euy.. WebObject adalah JavaEE Server keluaran Apple, yang power AppleStore. Konon sekarang dah gratis. Sudah coba?

Kembali kedunia lain, 

Android, yang sekarang notabene lg popular, searah dg Computex di Taipei yang sepertinya promonya semua Tablet, dan Android didalamnya. Terkesan pesan "Windows" terlalu berat muncul kuat sekali. Price to ego approach Microsoft selama berdekade terbayar dah, dan perjuangan berat Microsoft untuk membuat komunitas loyalnya hilang (saya dulu sangat fanatic sampai mengambil ujiannya MS loh, sampai gaji habis tuntas). Android seperti bernilai sangat tinggi, dan yang menarik dan thx to Google, yang memilih Java sebagai bahasa pemogramannya, membuat dunia Java yang sudah ramai menjadi semakin berwarna.

Apalagi setelah Oracle HQ menyarankan JUG menjadi bagian dari OUIC (ORacle User Group International Community), tetapi yah biasa orang JUG yang maju terus ingin JUG as JUG, dan lg ngepush Oracle ada orang khusus untuk Java. Seneng juga saya salah satu yang maju dengan ide crown independent ini. Sampai Chief Customer Officer telp Bruno mengenai kasus ini.


Saya pribadi melihat komunitas sangat berharga, kalau tidak, buat apa ampir 10 tahun berhubungan dengan komunitas, sampai mau-maunya kerja dg JENI tanpa bayaran. Tetapi semua pay back deh. Java is getting unbreakable, dan proses to Legend sedang terjadi. 

Secara mobile, Google telah menabok JavaME sangat keras, the market leader seperti kucing disiram air, lari terbirit-birit, dan tidak ada action yang berarti dari pihak Oracle sebagai pemilik baru. Padahal ORacle mempunyai AppForge dan JavaME, bayangkan kalau digabung, dahsyat... Tentu saja semakin banyak yang deploy Android, semakin kecil valuenya. Apalagi kita tahu Oracle termasuk yang parah kelola komunitas. Ini juga yang buat kenapa JUG berani maju. Ini nego JUG dg Oracle didepan, sebelum program komunitas Oracle, khususnya JavaONE diluar San Francisco menyebar ke negara lain. Thx to Indonesia yang bisa ikutan diawal. But dude, we need more leaders in this case.

Kalau dilihat dari semua diatas, keren kan, market mengarah ke yang benar. Saya juga mengarah ke sana.


Tapi lihat di BEI, bursa efek indonesia, semua perusahaan blue chip adalah yang berbasis alam, jadi kerjanya gak mikir, cuman beli eksavator, gali tanah, jual.. betul sekali batu bara lg naik daun.. gak mikir kan.. enak... dan jual keluar negeri, kan dunia lg masalah energi. 

Lebih seru lagi diskusi dg Mbah Lucky di Soto Kartini, boss Indomog ini, melihat bahwa everything harus cepat, dan beli saja... ini kebalikan dengan saya yang everything amazingly slow here, and the resource of people adalah the next power of Indonesia, tetapi karena pemerintah yang kacau, jadi kita hrs turun gunung, mengelola SDM, menunggu mereka mampu dan baru buat produk. Walaupun ini kerjaan menahun, dan lama...

Ini mirip dg masukan Pak Hery ke saya, mengenai Intercitra. Apa yg terjadi kalau kamu mati dan saya tidak bisa membiarkan program kerja yang dikerjakan kamu berhenti.

Lebih seru lagi statemen legenda Bu Suanning di Andersen yang terus mengiang saya, ada ratusan atau ribuan orang yang menunggu pekerjaan bergabung ke AA. Wah, tapi kata-kata kasarnya lupa euy.. next blog deh.. Intinya lo tuh gak berharga, wong orang lain ngantri kerja.. Positifnya lo harus punya performance tinggi. Gara-gara ini saya memanggilnya Ibu Besi, huaha. Jadi kangen nih dah 10th gak ketemu muka, cepet juga yah.

Nah lebih seru lagi statemen itu kena juga ke saya, saat saya negosiasi Intercitra adalah bernilai. Dijawab oleh pemegang saham, none of ur job is valuable, except Frans name.. 

Jadi kalau ditilik lebih lanjut, gila juga, semua yang ada disekeliling saya adalah useless. JUG, JENI, jTechnopreneur, Blueoxygen, MIDas dan Medallion.

Man, I am useless..unvaluable... -> ini salah satu yang membuat kenapa saya pelihara ikan. Tapi ternyata susah juga piara ikan, rekan saya baru saja di jarah di farm-nya, hal yang biasa terjadi dinegara ini, penjarahahn, penyakit puluhan tahun yang tidak sembuh2, diluar extrimis muslim yang sampai memasukan Indonesia di top list paling tidak aman. Silahkan baca di URL di blog sebelum ini.. Jadi this business ternyata still more valuable.. (ini sepertinya dalih setelah gagal ternakin killi..but my neighbour pak indarta sukses.. nah loh).

Ada slogan yang terus saya ingat, titipan dari mbah Mike Yank, salah satu orang yang membidani branding program Meruvian, adalah "We are here, because we share the same believe". Yah betul, ni kata yang mirip dengan yang diutarakan Bruno, saat awal2 saya menjalankan JUG, banyak hal yang tidak yakin, tetapi hati saya mengatakan harus menjalankan, seperti program flame, sampai membuat program .F*CK buat .NET. Yang lucunya diartikan buruk oleh Linuxer. Tapi sekarang dg masuknya Android terbayar sudah. Indonesian Linuxer must learn this... atau akan transformasi menjadi spesialis penganti logo linux lain. ckckckc.... berapa value nya yah program ini vs membuat VM sendiri didalam Linux. Maklum Android is another Linux distro juga tepatnya... but of course more valueable... Tapi Android ini gimana, under LUG (Linux User Group) atau JUG. (java user Group) nah loh atau keluar sendiri jadi AUG (Android User Group) atau GTUG (Google Tech User Group). man, i dont like company culting program as my brand experience.

So. what is your believe.. 

NB: Tjikal, ini jawaban telp lo kemarin... semoga terinspirasi dan bisa diforward ke rekan-rekan yang mengajak, tetapi gak berani bilang langsung.. gila satu milis harus pake intermediator..






75% Market IT ternyata termasuk kota ke-2 terburuk (resiko)

Jun 01, 2010 by Frans Thamura

Sudah tahu 10 kota terburuk untuk bekerja di sector IT. Jakarta masuk, dan Jakarta ditambah lagi sebagai kota ke-2 ter-resiko secara investasi.Padahal market IT Negara ini 75% di Jakarta.Lihat linknya http://www.cio.com/article/523463/Worst_Cities_to_Work_in_IT_International_Edition?page=5#slideshowKalau ibukotanya aja terburuk, ke -5, apalagi kota lain yah.


Gelar ke-2 terresiko didapat dari Business Week, nih linknya http://images.businessweek.com/ss/09/03/0304_difficult_cities/3.htm

Selain itu juga, biarpun negara Indonesia menarik, karena gak ada resesi global, tetapi bukan tempat yang menarik buat expartriat, dimana kalau perusahaan invest serius, biasanya top managementnya dari negara itu, dan kalau bahaya tinggal disini, gimana uangnya bisa masuk

Selain itu juga, islamnya terlalu extreme, yah sering sering aja buat kerusakan, biar pada hengkang.. hardest hardeship itu titlenya..

 "The threat of violence, from Islamic extremists in particular, is a serious drawback to living here," says ORC.

Share |
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!






View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:






Search

 

« July 2010
SunMonTueWedThuFriSat
    
1
2
3
4
6
7
9
12
13
14
15
16
17
19
20
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
       
Today

Links

Feeds




Navigation