Frans Thamura, Best Agnostic Javaman

Programmer Mobile di USA

Jun 22, 2010 by Frans Thamura

ini data mengenai mobile trend di USA.


According to Mobile Mix Survey, conducted in May by advertising agency Millennial Media, 56% of all developers in the USA write software for Apple?s mobile platform iOS. This is almost as twice as more than Google?s Android developers. 5% goes to Nokia?s Symbian and 4% of devs work on software for RIM?s BlackBerry OS.

But there are more surprising facts unveiled in the survey.

  • 9 of 10 developers write their apps for only one exclusive platform, and only the remaining one writes software for multiple operational systems.
  • Apple?s iPhone is the most popular handset on Millennial Media?s network. It is followed by RIM?s BlackBerry Curve (7.92%) and Google Nexus One (3.94).
  • Request for the Apple?s iPad on the company?s network grew 160% month-over-month, for Android-devices ? increased 15% in May.

Millennial Media?s data is pretty precise as the agency is the biggest after AdMob and covers with its network over 59,6 million users, which make 82% of the mobile Web, according to Nelson.




http://iphoneroot.com/56-of-u-s-developers-create-apps-for-apples-ios/#more-7780

Akhir dari Era J, sebuah branding case

Jun 20, 2010 by Frans Thamura

Besok, adalah resmi 9 tahun saya mengelola proyek OpenSource bernama CImande, yang kemudian meningkat menjadi BlueOxygen, dan menjadi material pembelajaran di pendidikan Indonesia, dan sampai hari ini, blum ada perusahaan lokal yang mengikuti model bisnisnya. Padahal tahun ini, saya merasakan adalah akhir dari Era J, artinya produk-produk dengan huruf J diawalnya, adalah tidak make sense untuk di branding. Kharisma Java telah masuk ke level terendah yang pernah ada. Tentu saja ini searah dengan kepercayaan public terhadap bagaimana vendor-vendor kapitalis mengelola komunitas dan melihat OpenSource bekerja. Kecenderungan leadernya atau pendirinya dianggap enemy of the state sangat tinggi. Hal ini terjadi diseantero dunia ternyata, dan tentu saja untuk negara dengan regulasi tumpang tindih, enemy of the statenya makin kuat, sebab mulai dari pendidik sampai country manager memasukan posisi ini sebagai anak macam yang akan menerkam majikannya.


Android, Blackberry adalah teknologi yang sangat dekat dengan Java, dan tidak menggunakan kata j didepannya. Malah standarnya tidak compliance ke JCP, sebuah institusi ajaib, bekerja seperti layaknya Organisasi ISO, W3C, tetapi tidak independent. JCP ternyata sebuah divisi dibawah Sun yang sekarang milik Oracle. Banyak konspirasi terjadi selama satu dekade ini, dan ternyata public tidak bodoh, dan banyak yang diajukan menjadi kenangan semata. Maklum mekanisme pengajuan standarnya agak aneh, sehingga sempat dikecam sana sini. SIlahkan simak bagaimana JCP 2.x terjadi dan yang paling concern tentu saja Apache Foundation.

Jaman JavaEE, saat JBoss menjadi topik pembicaraan, dimana awalnya adalah EJBoss, tetapi karena kata EJB adalah merk dagang Sun, maka diganti jadi JBoss. Berbondong setiap orang membuat solusi dengan kata J, Era J dimulai, dari JRockit oleh Bea, Jonas, JBPM. Semua berusaha mengambil celah kosong yang tidak ada. Hibernate menjadi JPA, Spring menjadi JBCI. Semua di J-kan.

Tetapi Google datang sebagai kuda hitam dunia mobile, dengan produk Android, yang notabene pengembangannya menggunakan Java, dan dahsyatnya tidak dibawah JCP, malah tidak ada hubungan sama sekali, dibentuk dibawah OHA (Open Handheld Alliance), sayangnya OHA masih terlalu premature, dan saya melihat akan ada masalah baru yang muncul di Android, karena spesifikasinya kurang kuat, dan di deploy di banyak piranti begerak, ini sih tanda-tanda programmer Android akan tidak bisa tidur nyenyak. Saat ini vendor mobile phone masih asal install, paling HTC yang mengembangkan HTC Sense, tetapi perjalanan waktu akan membuat lahir Android derivative, seperti layaknya JavaME menjadi BlackBerry (dulu sempat Motorla dan Nokia mengikuti arah ini, tetapi mereka akhirnya menstop dan mengikuti standard JavaME dari JCP, dan saya melihat ini lah awal kematian JavaME). JavaME menjadi sangat birokratik dan mengutamakan voting antar pakar daripada dinamisasinya kehidupan. Maklum Google gak punya pengalaman dalam pengembangan mobile phone sendiri dan menjualnya. Apple-lah yang diuntungkan dengan ini semua. Tetapi Apple harganya terlalu mahal, sehingga segment dibawah Apple terlalu besar dan ini sangat menarik.

Saya melihat kharisma JavaEE tetap ada sampai beberapa tahun, tetapi akan bergeser menjadi non J, terhadap sesuatu yang kita sendiri belum tahu, tetapi akan terjadi. Kecuali ORacle dapat merestrukturisasi JCP menjadi divisi yang lebih baik tidak kolot seperti Sun mengelolanya, atau membiarkannya independent, dan merangkul OHA. Tapi apakah ini bisa terjadi, kalau terjadi, gila ini. Java akan jadi legenda teknologi informasi yang lebih gila daripada saat ini yang dapat dikatakan adalah PC-nya piranti lunak. Inget IBM membuat PC compatible, terus IBM pertama yang tutup, dan terjadi di Sun.

Sebenarnya apa sih beda antara menggunakan J dan tidak, ini sebenarnya hanya sisi branding, teknologinya sih sama saja. jCimande dengan Cimande, apa bedanya, wong hanya branding.. Maklum kita menggunakan J, karena kharisma Java yang tinggi. Sekarang sepertinya ada merging teknologi berbasis virtualisasi, dan Java lead di area ini, dan secara opini solusi jXXX tidak menjual dalam dunia Cloud ini. Ini artinya kata J memiliki kata baru yaitu VE (Virtual Edition), atau Cloud.

Dalam stack BlueOxygen, ini terjadi merging dari layer application container sampai sistem operasi, sehingga Java yang berada diatas sistem operasi sampai container, tereliminasi secara persepsi integrasi.

Saya senang dalam era pergeseran ini, telah berpartisipasi, walaupun segment pasarnya tidak mendapatkannya, maklum tinggal dinegara yang memang diciptakan kita kerdil seterusnya. Apalagi bagi mereka yang terlahir tidak ada modal usaha. Senangnya, saya TELAH bukan AKAN..

Sebuah challange masuk ke era ke-2 dari transformasi solusi, dan beruntung dari awal branding program kita tidak dimasukan kata J, kecuali tentu saja program jtechnopreneur kita.

Bagaimana dengan Anda? sudah atau akan terhadap persaingan dan perubahaan diatas?


Kata Akan dan Sudah

Jun 19, 2010 by Frans Thamura

Saya tipe orang yg teriak-teriak, yang konon terlalu suka mengkritisi, walaupun beberapa sudah mengatakan the message telah masuk, dan yang menarik telah diterimanya message yang diutarakan, ini setelah ditolak banyak pihak, karena di negara ini, personal style lebih penting dari contentnya. Yang menarik message adalah sesuatu yang harus dilakukan terhadap yang akan terjadi. Akan itu artinya belum terjadi. Tetapi yang menarik dikaji nun jauh didunia lain, alias 1/2 bumi dari Indonesia, semua hal ini telah lewat, alias the message telah diextend menjadi sesuatu, yang menciptakan the massage ke-2.


Contoh. Siapa yang sudah mendalami power of Java, apa masih ribut susahnya Java dengan keahlian VB6. Kapan yah VB6 patch terakhir direlease? padahal didunia lain, kita sudah masuk ke cloud, mendeploy Java diatasnya dengan MVP bukan MVC. Terus malah sudah ada teknologi yang lebih baru yang seperti Java ini mulai dari V8, Dalvik, sampai extension C/C++ ke OOP yaitu Objective-C yang juga telah diextend, yaitu Cocoa Touch. Semua telah kan.. malah Apple Store telah ada 100.000 aplikasi yang tentu saja dikembangkan dengan Cocoa Touch ini. Semau Telah..

Padahal saat ini status disekitar kita adalah akan. Diknas akan memasukan kurikulum Java, Politeknik sedang mempersiapkan SDM (Dosen) untuk belajar Java, sehingga dapat memasukan ke kurikulumnya, dan ini artinya akan masuk kurikulumnya. Guru-guru pusing dengan SKKD 2010, karena akan memasukan ini semua ke mata pelajaran.

Mengapa kita hidup didunia akan dan bukan sudah?

Power of Human Interface to Lead The World

Jun 19, 2010 by Frans Thamura

Beberapa minggu ini, saya banyak sekali diskusi mengenai pasar Android yang datang menghajar habis JavaME yang notabene adalah market leader. Yang sakti, tidak ada satupun action berarti dari team JavaME selama ini, MIDP 3.0 seperti hilang ditelan bumi. Inovasi terhenti sejak berita Sun diakusisi Oracle, dan kasus Anti Trust yang dikumandangkan oleh Uni Eropa ke Oracle prihal Sun ini.


Belum lagi serangan iPhone yang notabene sepertinya estetikanya tidak dapat dinikmati oleh manusia-manusia yang tinggal di Indonesia secara umum, hanya segelintir yang menggunakannya, dan tentu saja mereka yang di strata ekonomi atas. Apple telah terlalu lama melakukan investasi di estetika dan lifestye, dimulai dari iMac, iBook sampai iPod, sampai muncul pemakai fanatic bukan karena dia lebih hebat, tetapi dia lebih cantik. Yang lebih sakti adalah karena semua tertuang dalam User Interface sistem operasinya yang dikembangkan secara private. iPad gadungan tidak akan dapat ditemukan dipasar tanpa sistem operas iOS, belum lagi dengan prosesor yang dikembangkannya yaitu A4, walaupun Samsung memilikinya yaitu S5 yang notabene adalah kembarannya. Samsung tidak memiliki sistem operasi, kalaupun ada Bada, itu bukan iOS atau Mac. Selain itu komunitas pengembangnya tidak kuat.

Android datang sebagai segment lain dari piranti bergerak, menggalang komunitas pengembang Java kedalam Android, menendang keras JavaME menjadi pencundang dalam dunia piranti bergerak yang sudah lebih dari satu dekade dikuasainya. Mahkota JavaME hanya diarak oleh BlackBerry, tetapi hati-hati, ini JavaME yang berbeda dengan JavaME yang diciptakan. BlackBerry telah memodifikasinya, ini teknologi yang tidak jelas antara JavaSE atau JavaME atau JustBB Java. Android dan BB memasuki pasar pengembang Java yang notabene superbesar sampai 10 juta programmer, apalagi market enterprise Java telah masuk legenda, belum lagi Java telah menjadi sebuah teknologi yang paling kuat di area Cloud Computing.

Segment Pasar Java sangat luas dari pemakai personal sampai giga-hit dotcom, dan kebanggan terbesar adalah teknologi yang diolok-olok lambat, karena jalan di virtulisasi, telah menjadi default teknologi untuk apapun. Jangan kaget iPhone yang maju dengan Objective-C, ternyata juga sebuah teknologi yang mirip BlackBerry dan Android, yaitu jalan di virtualisasi, jalan di LLVM (Low Level Virtual Machine), yang ditemukan hampir disemua sistem operasi. Tetapi Apple telah menciptakan sebuah API yang membuatnya berbeda, yaitu Cocoa Framework, hal yang sama yang diciptakan BlackBerry terhadap JavaME dan Android terhadap Linux dengan Dalviknya.

Semua pihak menciptakan VALUE dari sesuatu yang mereka ciptakan, dan lead the world di areanya masing. Kenyamanan Push Mail BlackBerry tidak akan ditemukan di Android. Keindahan Human Interface iPhone tidak akan ditemukan di piranti lunak lainnya. Betul sekali, sebuah bungkus khusus diciptakan dalam pengembangan produk. Ini sebuah permainan peperangan yang lebih complex dalam mengimplementasikan Sun Tzu. 

Saya termasuk orang yang sampai hari ini masih tidak mengerti mengapa saya membeli Mac, dan belum melihat value dari Mac. Wong ini propietary. Tapi ternyata saya membayarnya terlalu mahal untuk sebuah Aqua button. Sebuah segmen yang Linuxer tidak dapat lawan, sebuah services value yang tidak ada di pasar yang dimiliki oleh Windows dan Linux. Sehingga dapat dikatakan pasarnya Apple, Windows dan Linux sebenarnya berbeda. Notabene konspirasi MacOS  + iPhone dg iOS + iTunes adalah sebuah karya yang semua orang harus berpikir 1000x untuk melawannya, jauh lebih lock-in daripada semua Microsoft solution yang terintegrasi.

Dari semua ini saya yakin dengan kesimpulan saya, setiap segment ini layak investasi, dan ada satu segmen yang menyambar semua area. benar itu adalah MICROSOFT. Microsoft adalah perusahaan yang menyambar semua segmen dan tidak ada niche marketnya selain Desktop, yang notabene Desktopnya juga diantara Linux yang murah dan powerfull dan MacOS yang lebih indah. Tapi hati-hati Mac dan Linux menshare teknologi bersama. Thx to BSD didalam Mac yang membuat inovasi berjalan mulus di Mac dan Linux, tapi Windows. Apakah ERA Microsoft telah hilang. 

Linux dimaafkan pasarnya karena GRATIS. Mac dimaafkan karena ekslusifitasnya. 

Dalam dunia globalisasi, semua diatas memiliki pasarnya sendiri. Jadi bilamana kita hanya bagian dari Indonesia, jelas kita dapat dikatakan KUDA yang telah ditutup matanya. 

Saya menyimpulkan iPhone market itu kuat sekali, amazingly propietary, tapi indah yang dikumandangkan Apple secara global memiliki pasar. Jadi jelas kan mengapa Apple sekarang market capnya lebih tinggi dari Microsoft. Segment BlackBerry kuat di push mail, tetapi dengan program pemanjaan programmer yang tidak bagus, BB akan mandek, sorry dude. Android akan terus naik pasarnya, dan thx to Google yang me-release SDKnya untuk programmer lebih dulu daripada barangnya, sehingga kasta programmer di Android lebih tinggi daripada di dunia lain. Java akan terus berkumandang di area Cloud. 

Yang menarik semua teknologi selain Apple punya, adalah Open System. Memang seni itu propietary, lukisan tidak bisa sama dan mahal, walaupun terkadang lukisannya dianggap sangat buruk oleh pihak lain. TApi sekarang jamannya so what gitu. Dunia So What Apple mirip dengan dunia Atheis yang dilarang dinegara ini, tetapi akan menjadi segmen tersendiri didunia Internet. no one can eliminate it. iPhone dilarang membesar oleh Telkomsel, tapi sadar dude, pasar mobile Indonesia hanya no. 4 sekitar 170-juta vs 4 miliar global. Still Chicken. Semoga blog ini menyadarkan para telco company esp mobile telco dari tidur lamanya. Sudah bukan saatnya berjalan sendiri dengan pasar yang terus terkomoditas, dan tidak membuat link program antara U and US. U will dead end like JavaME.

Saya malah melihat this new market itu lebih besar dari apapun, dan apakah stay di Indonesia dengan regulasi yang tumpang tindih adalah ideal? Yes DUDE. Message me if u want to know more.


Value (vs Harga).. Objective-C, Cocoa dan Apple Market Cap, setelah ngeMac

Jun 07, 2010 by Frans Thamura

Telah 2 minggu saya ber-Mac ria, ini juga gara-gara Wendy push ke iPhone, dan yah ini sudah 2 bulan lebih berhubungan dengan Objective-C, khususnya Cocoa Touch.


Banyak hal yang saya dapatan mengenai barang yang ter-cult ini. Hal pertama yang menarik mengenai berhubungan dengan Apple adalah estetika, dan material yang diutamakan olehnya adalah Human Interface Design, ini menarik, sebab panduan human interfacenya lengkap, Ini URLnya untuk Human Interface Guide

Salah satu yang sangat berguna adalah



Hanya beda border dan tidak ada border, ada banyak yang tertulis disana.


Yang lebih seru lagi, Sudah tahu marketcap-nya Apple mengalahkan Microsoft, ini artinya Apple sangat berharga, dan hanya 1 level dibawah Exxon.

Ini Chartnya Apple vs Microsoft vs Oracle.





Padahal kita tahu Apple sekarang sangat propietary didunia iPhone, iPad dan iPod, sampai teman lama Adobe yang memiliki Flash (hasil membeli Macromedia), tidak dikasih masuk ke iPhone World. Sangat strict. Maklum pengalaman buruk selama beberapa dekade membuat Apple keras didunia embeded. Yang notabene, karena itu saya membeli Mac.. Coba bisa buat iPhone apps on XCode, gak akan beli lah.

Secara experience, awal2 teman-teman yang sudah ngeMac bilang, banyak hidden jewel, tapi as Frans, ternyata sama aja.. Yang menyenangkan sih, sudah ada Java didalamnya dan bisa pilih 64bit atau 32bit. Aplikasi propietary dan OpenSource masuk semua. oh iya, saya beli mac book ini 7.9 juta. Ada yang penting, Macbook tidak panas, walaupun Dual Core, dan tentu saja, sesuai saran Mbah DJony, jangan sering2 ngeFlash, karena prosesor kerja extra dan jadi berisik. Agak narsis juga, kita menjadi pencinta kesunyian (so elegan), padahal pompa air disebelah saya kerja, berisiknya beberapa kali kipas notebook conventional.

Menarik sekali, karena Adobe product, Eclipse, Java bisa jalan semua, dan yang tidak bisa jalan di semua OS dan hanya di Mac adalah XCode plus iPhone SDK, ini alasan kenapa saya coba Mac.

Yang lebih menarik dari itu semua, ribut ribut 1 bulan ini, Apple akan mengalahkan Microsoft secara market cap, ternyata jadi kenyataan.. Saya gak bisa bayangkan sang capitalis bernama Steve Ballmer ditelp Steve Job, gimana yah. PAsti ada telp atau SMS, bro lo sekarang under me dude... Padahal AOL konon dulu mau beli Apple... maklum Apple sempat sekarat.

Sudah tahu XCode 3.0 itu ada WebObject plugins, jadi kita bisa buat aplikasi Java Enterprise disana, tetapi yang baru gak ada euy.. WebObject adalah JavaEE Server keluaran Apple, yang power AppleStore. Konon sekarang dah gratis. Sudah coba?

Kembali kedunia lain, 

Android, yang sekarang notabene lg popular, searah dg Computex di Taipei yang sepertinya promonya semua Tablet, dan Android didalamnya. Terkesan pesan "Windows" terlalu berat muncul kuat sekali. Price to ego approach Microsoft selama berdekade terbayar dah, dan perjuangan berat Microsoft untuk membuat komunitas loyalnya hilang (saya dulu sangat fanatic sampai mengambil ujiannya MS loh, sampai gaji habis tuntas). Android seperti bernilai sangat tinggi, dan yang menarik dan thx to Google, yang memilih Java sebagai bahasa pemogramannya, membuat dunia Java yang sudah ramai menjadi semakin berwarna.

Apalagi setelah Oracle HQ menyarankan JUG menjadi bagian dari OUIC (ORacle User Group International Community), tetapi yah biasa orang JUG yang maju terus ingin JUG as JUG, dan lg ngepush Oracle ada orang khusus untuk Java. Seneng juga saya salah satu yang maju dengan ide crown independent ini. Sampai Chief Customer Officer telp Bruno mengenai kasus ini.


Saya pribadi melihat komunitas sangat berharga, kalau tidak, buat apa ampir 10 tahun berhubungan dengan komunitas, sampai mau-maunya kerja dg JENI tanpa bayaran. Tetapi semua pay back deh. Java is getting unbreakable, dan proses to Legend sedang terjadi. 

Secara mobile, Google telah menabok JavaME sangat keras, the market leader seperti kucing disiram air, lari terbirit-birit, dan tidak ada action yang berarti dari pihak Oracle sebagai pemilik baru. Padahal ORacle mempunyai AppForge dan JavaME, bayangkan kalau digabung, dahsyat... Tentu saja semakin banyak yang deploy Android, semakin kecil valuenya. Apalagi kita tahu Oracle termasuk yang parah kelola komunitas. Ini juga yang buat kenapa JUG berani maju. Ini nego JUG dg Oracle didepan, sebelum program komunitas Oracle, khususnya JavaONE diluar San Francisco menyebar ke negara lain. Thx to Indonesia yang bisa ikutan diawal. But dude, we need more leaders in this case.

Kalau dilihat dari semua diatas, keren kan, market mengarah ke yang benar. Saya juga mengarah ke sana.


Tapi lihat di BEI, bursa efek indonesia, semua perusahaan blue chip adalah yang berbasis alam, jadi kerjanya gak mikir, cuman beli eksavator, gali tanah, jual.. betul sekali batu bara lg naik daun.. gak mikir kan.. enak... dan jual keluar negeri, kan dunia lg masalah energi. 

Lebih seru lagi diskusi dg Mbah Lucky di Soto Kartini, boss Indomog ini, melihat bahwa everything harus cepat, dan beli saja... ini kebalikan dengan saya yang everything amazingly slow here, and the resource of people adalah the next power of Indonesia, tetapi karena pemerintah yang kacau, jadi kita hrs turun gunung, mengelola SDM, menunggu mereka mampu dan baru buat produk. Walaupun ini kerjaan menahun, dan lama...

Ini mirip dg masukan Pak Hery ke saya, mengenai Intercitra. Apa yg terjadi kalau kamu mati dan saya tidak bisa membiarkan program kerja yang dikerjakan kamu berhenti.

Lebih seru lagi statemen legenda Bu Suanning di Andersen yang terus mengiang saya, ada ratusan atau ribuan orang yang menunggu pekerjaan bergabung ke AA. Wah, tapi kata-kata kasarnya lupa euy.. next blog deh.. Intinya lo tuh gak berharga, wong orang lain ngantri kerja.. Positifnya lo harus punya performance tinggi. Gara-gara ini saya memanggilnya Ibu Besi, huaha. Jadi kangen nih dah 10th gak ketemu muka, cepet juga yah.

Nah lebih seru lagi statemen itu kena juga ke saya, saat saya negosiasi Intercitra adalah bernilai. Dijawab oleh pemegang saham, none of ur job is valuable, except Frans name.. 

Jadi kalau ditilik lebih lanjut, gila juga, semua yang ada disekeliling saya adalah useless. JUG, JENI, jTechnopreneur, Blueoxygen, MIDas dan Medallion.

Man, I am useless..unvaluable... -> ini salah satu yang membuat kenapa saya pelihara ikan. Tapi ternyata susah juga piara ikan, rekan saya baru saja di jarah di farm-nya, hal yang biasa terjadi dinegara ini, penjarahahn, penyakit puluhan tahun yang tidak sembuh2, diluar extrimis muslim yang sampai memasukan Indonesia di top list paling tidak aman. Silahkan baca di URL di blog sebelum ini.. Jadi this business ternyata still more valuable.. (ini sepertinya dalih setelah gagal ternakin killi..but my neighbour pak indarta sukses.. nah loh).

Ada slogan yang terus saya ingat, titipan dari mbah Mike Yank, salah satu orang yang membidani branding program Meruvian, adalah "We are here, because we share the same believe". Yah betul, ni kata yang mirip dengan yang diutarakan Bruno, saat awal2 saya menjalankan JUG, banyak hal yang tidak yakin, tetapi hati saya mengatakan harus menjalankan, seperti program flame, sampai membuat program .F*CK buat .NET. Yang lucunya diartikan buruk oleh Linuxer. Tapi sekarang dg masuknya Android terbayar sudah. Indonesian Linuxer must learn this... atau akan transformasi menjadi spesialis penganti logo linux lain. ckckckc.... berapa value nya yah program ini vs membuat VM sendiri didalam Linux. Maklum Android is another Linux distro juga tepatnya... but of course more valueable... Tapi Android ini gimana, under LUG (Linux User Group) atau JUG. (java user Group) nah loh atau keluar sendiri jadi AUG (Android User Group) atau GTUG (Google Tech User Group). man, i dont like company culting program as my brand experience.

So. what is your believe.. 

NB: Tjikal, ini jawaban telp lo kemarin... semoga terinspirasi dan bisa diforward ke rekan-rekan yang mengajak, tetapi gak berani bilang langsung.. gila satu milis harus pake intermediator..






75% Market IT ternyata termasuk kota ke-2 terburuk (resiko)

Jun 01, 2010 by Frans Thamura

Sudah tahu 10 kota terburuk untuk bekerja di sector IT. Jakarta masuk, dan Jakarta ditambah lagi sebagai kota ke-2 ter-resiko secara investasi.Padahal market IT Negara ini 75% di Jakarta.Lihat linknya http://www.cio.com/article/523463/Worst_Cities_to_Work_in_IT_International_Edition?page=5#slideshowKalau ibukotanya aja terburuk, ke -5, apalagi kota lain yah.


Gelar ke-2 terresiko didapat dari Business Week, nih linknya http://images.businessweek.com/ss/09/03/0304_difficult_cities/3.htm

Selain itu juga, biarpun negara Indonesia menarik, karena gak ada resesi global, tetapi bukan tempat yang menarik buat expartriat, dimana kalau perusahaan invest serius, biasanya top managementnya dari negara itu, dan kalau bahaya tinggal disini, gimana uangnya bisa masuk

Selain itu juga, islamnya terlalu extreme, yah sering sering aja buat kerusakan, biar pada hengkang.. hardest hardeship itu titlenya..

 "The threat of violence, from Islamic extremists in particular, is a serious drawback to living here," says ORC.

Share |
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!






View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:






Search

 

« June 2010 »
SunMonTueWedThuFriSat
  
2
3
4
5
6
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
21
23
24
25
26
27
28
29
30
   
       
Today

Links

Feeds




Navigation