Frans Thamura, Best Agnostic Javaman

Android di Pasar Java, bersaing dengan siapa?

Jul 21, 2010 by Frans Thamura

Android has been all over the Jakarta city. Coba keliling seputar tol dalam kota Jakarta, ada iklan mulai dari SonyEricsson Xperia, dilanjutkan dengan merk lokal Nexian Journey A890, disekitar grogol dari pluit ada iklan Samsung Galaxy S.


Ada juga komunitas pemakai Android dibawah id-android yang membernya banyak, tapi belum aktif banget untuk transaksi jual belinya. Biasanya sih nanti akan masuk ke second hand market kalau user-user di Indonesia (terinspirasi IndoWLI).

Sayangnya programmer Android masih belum kedengeran, dibandingkan programmer Java (maklum sudah ada sejak 2001). Tapi ini pertanda menarik, karena logo Java di HP baru muncul diiklan-iklan HP lokal, sebab SE, Nokia, Motorola dan BlackBerry sendiri gak pernah tuh iklan logo Java. Jadi kalau secara iklan, ternyata 2-2nya baru ditahun 2010 ini beriklan.

Dijamin awareness ada teknologi Java di handphone kita-kita ini sangat rendah, apalagi Indonesia termasuk kategori gatek country, dikasih tahu tiap hari aja gak tahu, apalagi gak pernah ada kegiatan.

Ini berita menarik, sebab artinya piranti lunak yang umumnya masuk grade buangan telah menjadi salah satu sarana penyelamatan diri dari persaingan yang semakin keras, kalau di diagram Aaker, ini artinya turun kasta. 

Kalau terus seperti ini, artinya value yang diberikan telco dan handphone as device semakin rendah, atau pemakai semakin ingin lebih. Lihat saja pemakai HP lokal tanpa browser gimana.

Walaupun meeting terakhir dan pernyataan pembuat Java (tahu kan siapa), memperlihatkan chipmaker masih mengontrol adanya semua ini. Vendor Lokal kita masih belum mengerti mengapa dia menjual HPnya ada browser, Java, atau aplikasi sosial seperti eBuddy. Spesifikasi teknis dikalahkan oleh jiwa dagangnya. Tapi yah kita lihat, saat persaingan HP lokal menguat, akan masuk ke kancah tersebut. Nokia saja yang sudah memasukan informasi semua ini, karena business modelnya yang kurang friendly dengan piranti lunak khususnya segment pengembangan, sekarang jadi indanger species. Emotional value terlalu rendah, dan sustainabiliynya kurang bagus.



Lihat diagram diatas, aplikasi on Symbian, tidak masuk. Dan kita juga tidak tahu di Symbian mau kembangkan aplikasi dengan apa? JavaME yang dah oldies, Qt yang merupakan barang baru, atau Flashlite yang sekarang sedang disaingi HTML5.

Yang menarik, kita tahu juga beberapa tahun lalu, Microsoft rajin ke pendidikan, nah sekarang di era mobile, mau kemana.

Yang menarik dari semua ini, ternyata BB, Android, dan JavaME itu menggunakan bahasa pemograman yang sama, hanya teknologi deploymentnya yang berbeda, dan JavaME dan BB seperti sepupuan tetapi tidak sama.

Ada segment lain yang terlupakan, yaitu segment aplikasi desktop, dimana Windows adalah rajanya, dimana Microsoft berjuang developmentnya on .NET.  Sudah tahu MS sendiri mulai promosi logo Java. 2010 memang tahun yang menarik khususnya untuk Java. FYI, Android is not Java tapi menggunakan bahasa Java untuk pengembangan. Welcome to the world of perspective.



Yang menarik, adalah ada logo tomcat dan Java. Microsoft sendiri gak tahukah? atau any reason, apaka Glassfish dg logo ikan, Jonas dg logo ikan paus, JFox dg musang, akan ditaruh distack compute?


Dengan hadirnya Android ditablet, artinya ada pembagian kategori untuk komputer dengan layar 7"-10", dan layar tersebut sama dengan netbook, dan juga tablet. Apakah akan keluar Android yang bekerja dengan keyboard, atau install Android di Netbook.

Maklum kita tahu pemakai Netbook umumnya menggunakan untuk browse internet, presentasi, dan ketik-ketik surat atau buat presentasi, sebuah kerjaan yang kurang lebih mirip dengan tablet.

Berita yang terakhir ramai adalah Windows7 dianggap terlalu berat untuk tablet market, dan sepertinya Android akan naik, sebab ini searah dengan masuknya iOS ke tablet dengan lahirnya iPad.

Jadi segment frontend, terpecah antara PC didesktop, Tablet, Netbook dan telepon genggam yang semakin rich aka smartphone.

Nah ini artinya semakin bervariasi pengembangan solusi di frontend ini, mau yang mana? Padahal mendalami satu saja lumayan makan waktu, apalagi development toolsnya banyak. 

Kalau mendukung Android, desktopnya pakai Swing mungkin dapat menjadi pilihan, karena sama-sama menggunakan bahasa Java, atau yang lebih mantap lainnya adalah SWT dari Eclipse, yang notabene Symbian JRT (Java Run Time), menggunakan eSWT. Ini yang menarik, apakah Eclpse akan menjadi pemain kuat disegment mobile, dan eSWT itu bukan JavaME, jadi logonya berbeda bukan logo Java.

Kita di Meruvian sedang berusaha mengurangi report dari banyaknya pilihan ini dengan membuat project MIDas, itu dari kata MID (Mobile Internet Devices), tapi dikita disebut MID adalah Meruvian Integrated Desktop, nah MIDas itu adalah yang dilayer front, lihat diagramnya.



Dengan melihat kompeksitas dan terlalu banyaknya pilihan, membuat kita harus mulai memiliki jiwa agnostic artinya tidak memilih dan melihat secara lebih jauh kedepan pasar yang akan terbentuk, dan tentu saja, semuanya ingin melock agar tidak bisa lari. Lihat saja model lock dari Apple, buat iPhone harus pakai Mac, dan Objective-C/Cocoa hanya ada di keluarga Mac, Cocoa Touch hanya ada di iPhone, iPod dan iPad. Setiap vendor berusaha mengurangi pilihan, tentu saja hal ini membuat kesenangan kita semakin berkurang, wong orang mau coba gak boleh, ini barang lo atau barang gue, oops iPhone bukan barang kamu, tapi Mac bisa jadi barang kamu (bisa install aplikasi Linux dan Windows kan itu funnya MacOS).

Nah, kalau kita belajar semua, teler, tapi kita bisa merasakan bukan kemana arah persaingan, dan Android menjadi menarik, karena mengisi kelemahan JavaME, khususnya akses ke database (Android menggunakan SQLite), dan Android mengisi celah Tablet, artinya bersaing dengan Swing, .NET tetapi untuk segment yang kurang advanced, karena gak bisa full blown, tetapi apakah benar Anda butuh yang fullblown.

Android itu OpenSource, tapi ada yang bisa install sendiri froyo ke tablet, nah itu PR besar, webnya Android parah sekali. Google terkenal pengembangannya internal dan tidak terkolaborasi, tetapi lisensinya Apache, yang sangat liberal.

So, setelah baca blog ini mau kemana? Investasi TIK menjadi semakin mahal kan.



Codeplex.com , who will use it?

Jul 18, 2010 by Frans Thamura

We did an event (Eclipse DemoCamp) at Microsoft Indonesia, and showing the TFS as first topic, the Team Foundation Server, a collaborative development server in Microsoft World.


I got that TFS is only 400$, and we can see there is Visual Studio Explorer for Eclipse, a new thing on Microsoft. This is because any Microsoft product are extensible. Teamprise develop on that SDK and make Eclipse can work with it.

Strange thing, the product is not FREE.. u can try for 90 days, download it here

Roland, an internship student in Microsoft Indonesia, MIC guy also from ITB, show us the Codeplex. Glad that I found there is SVNBrige in Codeplex, we can use Codeplex using SVN.

But when we try to use the Eclipse Plugins for TFS, we cannot connect to Codeplex, but just plain SVN like usually. 

I just see that Codeplex can be an alternative of SF.net (which we was using it), and our own GForge implementation (UGforge.gunadarma.ac.id), Google Code.

I got that there is security in TFS, and sad we cannot find it in Codeplex.

Anyone using codeplex? I am still thinking this is just for them (Microsoft's programmer)

Enterprise OpenSource di Indonesia, pro and contra dan Komunitas OSS Indonesia

Jul 18, 2010 by Frans Thamura

Kemarin saya menjadi pembicara di sharing pertemuan komunitas OpenSource, yang menurut saya, yah gitulah, Indonesia gitu. Inisiatif kominfo bagus, untuk menggabungkan, tetapi like I said to them.. welcome to chicken head world. Memang suka-gak-suka, for business decision we must work together, but in personal matter, itu mungkin kasus lain. Will the link become reality? but who is the leader that can link? esp now, the OSS become a bunch of market that sound $$$ in global (Indonesia?).


Ternyata ada banyak diskusi menarik yang perlu dishare, diluar dari statement kita-kita terhadap pemerintah, tetapi sayang pertemuan masih membahas goverment market, area yang saya tidak sentuh selama 2 tahun terakhir (wanna to be a leader must focus outside indonesian goverment sector). Walaupun kita tahu ini area basah dan 20% pasar IT Indonesia, ranum dan gurih. Tidak perlu deliverable, cash masuk. Apalagi diera pemerintahan sekarang. Makyus. 

Ada 2 hal yang menarik yang membuat saya memblog, hendak menshare dengan rekan-rekan.

1. Pertanyaan rekan kita dari Rumah Ilmu Indonesia yang kita tahu sedang ke sekolah2 dengan Terra Group (Axioo, C-Gear, VisiPro), mengenai susahnya link negara ini terutama pemerintahnya, kadiknas, DPRD, Kelapa Sekolah, khususnya yang negeri, karena harus dari pusat lah, ini lah itu lah, dan ternyata dealnya banyak yang swasta katanya. Tapi untuk lebih jelasnya silahkan tanya ke empunya, ada di FB saya kok. Saya menjawab, yah betul, harus penuh "miracle" untuk dealing dengan goverment kita. Effort yang besar. RII setahu saya juga salah satu yang buat aktifitas sama dengan kita-kita, diatas 8-an tahun. Apakah formula dealing dengan pemerintah adalah urat panjang 8 tahun, hanya untuk sebuah program kecil. Silahkan baca slide dari rekan kita di Bank Indonesia mengenai sebuah ide dari dicetuskan sampai regulasi min 5 tahun, download materilanya di teknopreneur.com, ICT4 Mobile Forum.

2. Enterprise OSS
Senang bertemu pak Bambang dari SI, diskusi berat mengenai perushaan yang terpublikasi sebagai aktif dalam OSS, walaupun ternyata di Enterprise kita kekurangan SDM yang mengerti selain integrasi, juga patch error. Ini sebuah diskusi yang menarik, bagaimana kita menciptakan sebuah ekosistem dari OSS itu sendiri. Dimana saat ini pihak user (perusahaan pemakai), mau untung sendiri, pakai tapi gak ada contribute, terus kalau error, teler, dan mau murah tapi ... hohoho.. this is enterprise market, support sangat diperlukan. Saya senang ternyata area ini sudah mulai tumbuh, dan glad have a lot of experience.. dan gak kerasa di area Enterprise OSS dah mau 11 tahun. Behavior Enterprise yang terkenal mau banyak, rewel, digabungkan dengan ekosistem Indonesia yang sangat tidak kondusif tetapi penuh peluang, merubah sebuah ide harus menjadi multi companies, menciptakan pasar sendiri yang saya melihat vendor ERP, BIS, atau apapun harus merubah skenario lisensinya, dan juga para pengembang aplikasi harus menciptakan aristektur khusus, tapi ternyata kalau dilihat dari market global, a tinny winny company, bukan hughes big market cap. Tragis yah.

Jadi dapat dikatakan Enterprise market di Indonesia ini complex terutama di area yang SME (sudah tahu Indofood aja termasuk SME lo dibandingkan global solution). multicompanies consolidation, distributed warehouse, async transaction. SDM yang buruk, aristektur sistem yang tidak terintegrasi. Yang notabene mulai ada versi OSSnya, tetapi tidak bisa semuanya OSS. Pressure vendor internasional yg memaksa perusahaan kita berkembang pesat atau dimakan oleh lisensi yang mengunci dan memeras. be Capitalist or acquired.. Hal yang tidak biasa buat perusahaan di Indoensia, yang umumnya owner adalah tangan besi dan bekerja sampai hari akhir, alias diteruskan anaknya, masih family business model yang dipush oleh globalisasi untuk jadi professional company.

Menarik kan, kasus diatas, area kosong yang saya jamin belum disentuh selama 8 tahun ini oleh IGOS, yang terlalu focus ke sosiaslisasi, dan selalu dilevel sosialisasi. Pak Kemal sampai buat point yang menarik mengenai kontra dari program IGOS, yaitu kewarasan. Huahua. So 85 entitas pemerintah kalau digrade dalam implementasi OSS, apakah ini sukses, kita lihat di IOSA. Kalau eGov award saja seperti mainan. Tapi jangan prasangka dulu, kita tunggu.. 8 tahun program OSS, yg juara seperti apa sih. Ditengah pemerintah yang memiliki prioritas masing2 yang katanya sih penting dari sisi mereka.

Yah secara asosiasi AOSI, masih jauh dari sebuah asosiasi, apalagi focusnya terlalu goverment, area yg saya sendiri kurang mau dalami, inget 3 tahun lalu "disuruh" invest pegawai untuk PP80 dan tender. Saya blog ini, untuk mengingatkan keputusan ini salah besar atau tidak. Frans melupakan 20% market IT nasional, idiot or smart. Market yang membuat banyak orang kaya raya tanpa berpikir. Apakah idealisme ini make sense.

Yah, kegiatan yang bagi saya adalah makan-makan dan ketemu 4L (lo lagi lo lagi), tapi saya tidak menemukan the power to push the market... we still have a lot of home works. yang saya percaya akan terpecahkan setelah saya mangkat.





JUG repositioning 2.0

Jul 11, 2010 by Frans Thamura

Menarik sekali, saya baru baca sebuah blog, mengenai JUG Bandung, ini URLnya Dan kalau mau jujur juga, saya menjawabnya meski agak takut tapi kami berharap nantinya akan ada dukungan dari Community Manager dari Sun Oracle yang dijabat oleh mas Alex Budiyanto untuk mengingatkan tentang regenerasi pengurus. Hal ini mungkin menjadi kelebihan JUG Bandung kali ini (semoga)."


Padahal, saya (JUG Indonesia dan JUG ASIA) saat ini bersama-sama dengan SouJava (JUG Brazil terbesar), JUG.ru (JUG Rusia), Van Riper (SW JUG dan JUG-USA), Manfred, serta Max (JUG Afrika), sedang mereposisi JUG, jadi kita ada karena kita yah mau ada aja, huahua, dan regenerasi tidak terikat oleh vendor. Perjuangan beberapa bulan dan diharapkan terjadi meeting besar di San Francisco mengenai masa depan JUG didunia, tepatnya JavaONE 2010. Dimana saya sendiri akan hadir, dan saya percaya itu adalah acara terbesar yang akan saya alami, maklum saya menjabat banyak title, Ace Director, Java Champion, Java Educator Panel member, JEDI, terus juga di Indonesia adalah JENI dan jTechnopreneur. Selain tentu saja JUG rep dari Asia.

Kita mereposisi hubungan kita dengan Oracle, sebagai rekanan, malah Oracle sudah setuju bahwa pengurus JUG dilarang pegawai Oracle, tetapi officialnya tentu saja nunggu proposal dari Jab Dasteel, yaitu Chief Customer Officer yang membawahi Oracle User Group. Yang mantap dari JUG, karena ada 900 kepala suku yang susah diatur didalamnya, memerlukan 3 divisi untuk handlenya. Mantap bro.

JUG Indonesia tentu saja akan mengikuti model ini, karena ini bukan masalah mengikuti tetapi juga leadership kita, bangga sebagai manusia seutuhnya yang bebas sebebas-bebasnya. 

Reposisi ini membuat Oracle adalah rekanan dari JUG, dan JUG Indonesia tentu saja dengan senang hati bermitra dengan OUIC, dan bukan dibawahnya. Sebab kita berdiri jauh hari sebelum Sun sendiri peduli komunitasnya. Jujurnya, pendirian JUG sudah mengajak Sun Indonesia, tetapi Sun menolak, karena mereka tidak ada concern terhadap komunitas, we are purely commercial company, itu statement yang didapat, walaupun akhirnya ada Harry kaligis dkk yang bersentuhan dengan JUG Indonesia. Saya tidak tahu apa hubungan Alex (anak buah HK), dengan pendirian JUG Bandung (padahal ada JUG Geulis yang juga sekarat gerakannya di Bandung).

Tentu saja itu masa lalu, saat ini tugas terberat adalah membantu JUG di negara lain yang sekarat juga, karena aktifitasnya juga mulai menghilang, dan tentu saja ini era globalisasi, kita perlu go global, dan doakan JUG asia dapat tumbuh dan memeperlihatkan cahayanya. Yah itung belajar manage asia, coba kapan lagi orang Indonesia bisa manage asia wide.

So, bagi yang membuat JUG baru, entah dikota mana, area mana, propinsi mana. Berani independent?

Murid yang Menolak atau Standar Sekolah yang buruk

Jul 10, 2010 by Frans Thamura

Sudah lebih dari 6 bulan ini saya diskusi dengan banyak kampus dan juga sekolah-sekolah, dan menarik sekali. Ada beberapa pengalaman yang saya dapatkan dari semua ini, dan kaget bin ajaib, ternyata ini terjadi.


Satu Kampus "B", sang dosen mengatakan sang mahasiswa sudah mabok dengan OOP, tetapi bangga mengajarkan SOA, tetapi lucunya pada saat bicara aristektur disarankan tidak diajarkan ke mahasiswanya, karena OOP aja mabok, dianggap mahasiswanya tidak mampu.

Satu Kampus "SMKN1 di D", mengatakan muridnya menolak program yang lebih baru, sehingga sekolah mengalah dan mengikuti kemauan muridnya. Jadi outputnya adalah pegawai pabrik untuk lulusan sekoalh tersebut. Padahal teori saya, semua manusia adalah sama, dan asal ada standar yang bagus, manusia sebagai makluk yang telah dapat bertahan hidup sejak jaman es, pasti dapat beradaptasi. SEhingga beban seberat apapun pasti bisa. Contoh SMK yang dianggap program yang mustahil, ternyata sekarang kita mendapatkan anak SMK yang super sakti dibandingan mahasiswa dengan IP 3.7. Jadi jangan meremehkan.

Saya melihat beberapa sekolah disekitar saya tinggal ada yang memasang standar supertinggi dan uang sekolah supermahal, dan ternyata laku dan penuh, dan anaknya mampu. Tetapi 2 kasus diatas terjadi, yang notabene malah Kampus "B" adalah kampus swasta terbaik di negara ini (konon).

Maklum saya sekarang sedang dalam krisis kepercayaan terhadap lulusan S1 dan D3/4 dari keahlian praktis dan juga keahlian bekerja. Konon mereka diciptakan untuk kerja di lab riset, tetapi saya kasih riset juga, gak kelar-kelar sangat sering terjadi, sampai Pak Heru memberikan teori 3%, artinya hanya 3% maksimum yang proactive, dan sisanya gak jelas, dan diharapkan 3% dari 3% ini yang bagus. Tetapi apakah yang terbaik ini akan bersama kita, saya jamin tidak akan, apalagi negara ini suka banget dengan kerja diluar negeri, seberapa rendah dan tidak strategisnya pekerjaan tersebut, Kalau perlu di luar negeri, jadi pembokat jadi lah. Ilmu yang diinvestasikan dibuang gak penting, yang penting luar negeri.

Padahal kita kalau mau maju, harus memiliki sebuah baseline target standar yang diinginkan, tetapi ternyata saya baru tahu, banyak institusi yang target standarnya adalah capital, alias nilai uang yang masuk, bukan dari seberapa bagus atau berkualitas.

Ada ide dengan fenomena yang terjadi, no money = useless, high quality tapi no money juga useless. GIla kan kalau pendidikan kita berpola pikir seperti ini, saya percaya gara-gara pendidikan kita berpola pikir seperti ini, makanya deindustrialisasi adalah hal paling tepat buat negara ini. 

Agent Modeling Platform

Jul 10, 2010 by Frans Thamura

Wah eclipse sekarang ada Agent, bisa buat hiperboid gitu deh, keren nih.. coba deh .




juga versi 3D-nya



Nah ini AMP URLnya, http://www.eclipse.org/amp/installing/updates.php


Globalisasi dan Akusisi

Jul 10, 2010 by Frans Thamura

Sepertinya saya sering banget memblog kata go global. Padahal kita tahu pemerintah kita saat ini sangat tidak mendukung pengusaha lokal, malah tanda-tanda membunuhnya sangat kuat. Pemuja merk asing yang kebelinger, itu sebutan saya.


Tapi dasar sifat dasar manusia, yang sudah terbukti dapat beradaptasi dengan segala situasi, sekarang ternyata berbondong-bondong perusahaan lokal menjadi bagian dari perusahaan asing. Sang naga teknologi informasi, Datamation baru saja jadi AVnet, yang IPO di NYSE. Ini menarik, kita kenal Datamation yang telah membuat HP itu seperti principle yang bertekuk lutut, dan sang owner, salah satu dan mungkin satu-satunya yang mengerti pentingnya software dalam dunia teknologi informasi, dibandingkan dengan kompetitornya yang lebih ke box mover dan pemain partai. Lelucon buat yang lain adalah, kalau usaha IT nya tutup, buka toko baju, atau toko kaca mata, karena itu semua dalam satu kategori trading. Thx, sekarang harga hardware makin murah, sehingga content menjadi sangat penting, dan ini artinya jaman era piranti lunak sudah dimulai..

Saya sedang mencari produk lokal yang go global, dan malah jadi market leader didunia lain, setahu saya baru Wings yang saya lihat kuat, tentu saja ada Dynaplast, Indofood, Kalbe, tetapi sayangnya yang teknologi sektor belum. Malah akusisi Datamation oleh AvNet mengagetkan saya. Sebab Datamation itu kan mbahnya enterprise server khususnya HP.

Saya mengenai Datamation sejak 1996, saat itu Gary memperkenalkan produk yang dijual, terus kenalan dengan satu perusahaan (lupa namanya), yang pegang MDaemon dan Lotus Organizer. wow so long yah.

Saya melihat peta dunia industri sekarang berubah, dipisah dari personal brand (community leader yang based on country), dan global player yang berantem. Apakah ini artinya regulasi pemerintah kita ditekan oleh perusahaan besar, saya pengen tahu kekuatan asosisasi terhadap pemerintah dengan model regional based company ini. Wishing can be part of them....


Magang di Meruvian Angkatan 2010

Jul 08, 2010 by Frans Thamura

Magang tahun ini sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dan juga output keilmuan anak-anak magang dah berbeda suasananya, apalagi dibandingkan 2003 saat Ratih dan Erwin datang ke Intercitra. Jauh banget. Ini artinya Indonesia telah lebih maju.


Dulu datang bawa komputer, malah tidak jarang yang belajar install Windows dulu, huahua, dan Linux, belajar Java, dan umumnya banyak yang setelah 2 batch (VEDC model magangnya 4 bulan x 3).

Sekarang framework sudah menjadi ilmu jauh hari sebelum magang, dan yang menarik dulu mahasiswa prakerin tingkat 2-3 atau yang skripsi. Sekarang siswa SMK kelas 2.

Tahun 2010, ini yang datang ujibileh banyaknya, total yang confirm adalah 130, dibagi menjadi 3 batch, dan batch 1 baru datang, dan ini juga magang istimewa, karena kita menggunakan Town House Gunadarma di Taman Puspa, dan juga program magang sekarang, ada 2 tim yang tandem dengan three-party model, yaitu Industri-Kampus-SMK, dimana Industrinya sudah lebih dari 2 tentu saja. Untuk tim EGov bareng dengan Kominfo SIPLK, dan untuk tim Syariah dengan pak Gatot dari CIMB Niaga Syariah. Ada juga bantuan dari Hendrie, teman kuliah saya dan juga Manager Solusi Schlumberer USA. Ini yang di Taman Puspa saya.

Berikut adalah Camp kita, yang satu lagi sedang renovasi, jadi diberitakan nanti yah.



berikut adalah foto-foto anaknya, dan magang sekarang, saking banyaknya kita pisah 2 team, co dan cw. terkesan genderisme yah, oh jangan kaget, itu kepala suku khusus handle camp, karena sekarang camp co dan cw dipisah.

Berikut Kepala Suku Gang Cowok.



Berikut Kepala Suku Gang Cewek



dan berikut adalah senior yang telah lulus yang "dipaksa" untuk membina juniornya, pautan mereka adalah 2 th.



Ini diluar team senior yang telah ada di Meruvian, yang siap membantu anak Magang ini menjadi generasi muda masa depan bangsa.


Berikut adalah siswa-siswa yang dibriefing di IBC Gunadarma. Maklum anak-anak ini semua (yg terpilih tentu saja), akan masuk program beasiswa Gunadarma/Meruvian.






Berikut adalah tim Briefing, dan sedihnya mata saya sedang tertutup, seperti terkesan tidur huahua..




Kami membuka diri untuk industri lain untuk berpartisipasi, dan juga SMK lain untuk berpartisipasi, dan juga Kampus lain untuk berpartisipasi. Mari kita bersama-sama membuat lebih baik, khususnya di tengah caruk maruk pendidikan kita. Siapa lagi yang akan membenahi kalau bukan kita sendiri.. 

Globalisasi 2.0, Pengalaman dari ODTUG 2010. dan Sekilas mengenai keluarga Chen.

Jul 05, 2010 by Frans Thamura

Baru saja bangun tidur, dan sepertinya ada hutang ngeblog mengenai apa yang dialami minggu ini. Yah kaki pegel-pegel karena muter 2 balik dari Capital Hill sampai Lincoln, dan foto segera yah..

Banyak hal menarik yang terjadi, dan ternyata part of global semakin murah. Apalagi setelah Andrejus mendapatkan project di Texas, dia harus 1 bulan di Texas, sebelum kembali ke Lithuania bulan depan, dan terus ketemu lagi dengan kita kita para Ace Director di San Fransisco akhir bulan September ini. Lithuania memiliki kasus mirip Indonesia, tentu saja dengan lebih sedikit penduduk dan beberapa hal yang lebih eksotis dari wanita hingga kulturnya..

Dulu, paman saya bercerita mimpi kakek untuk ke Amerika, dan memiliki pabrik sepatu, maklum beliau adalah tukang semir sepatu di kota kecil bernama Mei Sien, dekat Guang Zhou. Merantau ke tanah nunun jauh di tenggara, maklum tahun itu kan belum ada nama-nama negara, seperti Malaysia, Indonesia.. ke tanah harapan yang lebih baik, ditengah perang yang tidak jelas. Amerika sudah terlalu maju, dan keahliannya kurang untuk bersaing disana.

Kemudian, beliau memiliki anak 7 anak, dan dari anaknya yang ke-2 sampai terakhir kecuali yang ke-6, semuanya telah menjadi part of global. Emilia di Singapore, Susan di San Francisco, Imelda di Los Angeles. Mostly adik San-san lulusan Amerika, dan semua adik Imelda lulusan Amerika, dan Anak dari anak terakhir (Papang), lulusan luar, malah SD-SMA di Singapore.

Saya terlahir dari keluarga yang mungkin ekonomi lebih rendah, dan omelan uang saku yang kurang, terus membayangi saya, padahal sudah 17 tahun berlalu. Sehingga membuat saya harus bekerja. Mimpi go out side hampir terealisasi 2001, dengan hampir hengkang ke sydney, Australia. SEmua hasil kerja selama 10 tahun, ternyata habis sudah, tersisa satu lembar deposito yang akhirnya juga habis digunakan untuk operasional Intercitra, dan kabar beritanya, sekarang sudah mulai bosen juga mengunjungi Amerika. nothing special ternyata, malah makanannya yang western, membuat saya harus tiap hari masuk ke depo buang air lebih dari 6 kali, karena mules, ternyata ini perut susah juga beradaptasi dengan ini semua. The body contraction disorder? Jadi, sekarang, untuk kenegara manapun, tidak perlu anak orang kaya lagi loh...siapapun bisa.

Plus kerjaan kecil dari rekan di Malaysia di Android, lengkap sudah, ternyata world is changing rapidly, jadi kasus ke Amerika atau ke negara manapun ternyata sekarang bisa untuk siapa saja, dan kita part of Global. Ini sebuah persepsi yang harus kita sebarkan dan gaungkan ke semua orang, terutama untuk negara yang kerjanya ngedumel bernama Indonesia. Jujur, saya tipe pendumel, ternyata itu SALAH Besar.. Doakan anak Meruvian kita go regional shortly yah.. sudah tahu kan background Meruvian... :)

Apalagi tahun kemarin di New Orleand, Hajo menjelaskan mengenai music Jazz, dan mengapa saya harus adaptasi, walaupun jujur aja agak asing ini lagu (saya bukan penggemar lagu), termasuk juga makan malam dengan Lonneke, Mike, dan beberapa leader IT di Eropa, baik topiknya investasi, marketshare, dan juga makan malam yang super mahal (kita makan malam daging buaya). FYI, Hajo memiliki keluarga yang agak konservatif, dan kaget saat dia membawa wanita thailand menjadi istrinya, semua keluarganya bingung, terutama orang tuanya, yang sudah terbiasa hidup nyaman dengan kultur Jerman. Ternyata ada orang lain didunia sana yang berbeda, dan sekarang part of their family.

Ternyata apa yang dibicarakan di New Orleans terjadi juga, Simpson, Ace Director dari Slovakia, yang mengatakan mengenai bahasa inggris sekarang sangat diperlukan untuk komunikasi.

Dari semua ini kalau dikilas baik, ternyata pola hidup, cara memandang kita semua berbeda. Saya akuir para bule ini lebih maju, terutama mengenai kultur bekerja diberbagai negara, sampai lintas benua. Rekan Andrejus dari Romania sekarang di Afrika Selatan, Paul Dorsey memiliki kantor di Afrika, Basheer punya kantor di Malaysia, Lonneke di Singapura. Kerjaan lintas negara adalah hal biasa.

Tentu saja ini semua karena izin mengunjungi negara-negara itu semakin mudah, berbeda dengan kita, yang dari Indonesia, termasuk saya sendiri yang harus masuk Alien Investigastion sekarang Second Investigation. Ini adalah step melelahkan bagi mereka yang baru ke Amerika, untung saya sering, jadi sekarang cape dingantri saja, tapi gak ada proses lain yang merepotkan. Membicarakan Second Investigation, ternyata hal ini terjadi juga untuk teman saya bernama Lie Tjien, warga Jakarta yang sekarang telah tinggal dan menjadi warga negara CAnada, ternyata masih masuk second investigation, karena dulu warga negara indonesia yang pernah menunjungi Amerika. Kasus seperti ini dan juga kasus FISKAL oleh pemerintah kita yang terkenal mengganggu hidup warganya, adalah contoh yang membuat pola pikir kita, melihat bisa mengunjungi Jakarta adalah HEBAT. Padahal diluar sana, mengunjungi negara lain adalah hal biasa..

Andrejus kemarin satu mobil dengan saya ke Dulles, salah satu airport di Washington. Mengatakan mengenai Lithuania, pemerintahnya yang tidak friendly, dan sebuah blog gratis yang membuat dia bisa go global, dan bertemu kita semua, dan mendapat proyek di Amerika, Afrika, Eropa. Yah ini juga karena izin visa mengunjungi daerah ini semua hanya butuh sebuah email.

Anyway, para Ace Director sedang siap2 mengunjungi Indonesia, dan mereview apa yang Meruvian kerjakan, terutama untuk orang Indonesia, yang notabene di mata mereka adalah sebuah hal menarik, maklum GDP kita dengan mereka sudah berbeda, gaji sudah berbeda, dan juga ternyata mereka banyak yang protes pajak yang terlalu tinggi disana.

Yang menarik, kerja sosial harus ada didalam CV/Resume hampir semua orang di negara maju, bandingkan dengan negara kita yang "semakin suka" bukan bersosial tapi lebih mengabuse. So, sudahkan Anda memasukan kegiatan sosial anda kedalam CV anda?

Menarik kan, semua pola pikir ini, dan saya termasuk beruntung dapat duduk, makan, share dengan para Ace Director yang mostly adalah owner dan founder perusahaannya. Jadi didunia Ace Director, kita tidak hanya membahas mengenai Fusion Middleware saja, tetapi yang menarik adalah PAJAK, dan Pemerintah. Walaupun banyak yang sangat tidak suka membahas politik, dan mau focus dengan kerjaannya.

Get ready to go Global? Skillset is the foundation of those.

Share |
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!





View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:



Search

 

« July 2010 »
SunMonTueWedThuFriSat
    
1
2
3
4
6
7
9
12
13
14
15
16
17
19
20
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
       
Today

Links

Feeds




Navigation