Frans Thamura, Best Agnostic Javaman

Codeplex.com , who will use it?

Jul 18, 2010 by Frans Thamura

We did an event (Eclipse DemoCamp) at Microsoft Indonesia, and showing the TFS as first topic, the Team Foundation Server, a collaborative development server in Microsoft World.


I got that TFS is only 400$, and we can see there is Visual Studio Explorer for Eclipse, a new thing on Microsoft. This is because any Microsoft product are extensible. Teamprise develop on that SDK and make Eclipse can work with it.

Strange thing, the product is not FREE.. u can try for 90 days, download it here

Roland, an internship student in Microsoft Indonesia, MIC guy also from ITB, show us the Codeplex. Glad that I found there is SVNBrige in Codeplex, we can use Codeplex using SVN.

But when we try to use the Eclipse Plugins for TFS, we cannot connect to Codeplex, but just plain SVN like usually. 

I just see that Codeplex can be an alternative of SF.net (which we was using it), and our own GForge implementation (UGforge.gunadarma.ac.id), Google Code.

I got that there is security in TFS, and sad we cannot find it in Codeplex.

Anyone using codeplex? I am still thinking this is just for them (Microsoft's programmer)

Enterprise OpenSource di Indonesia, pro and contra dan Komunitas OSS Indonesia

Jul 18, 2010 by Frans Thamura

Kemarin saya menjadi pembicara di sharing pertemuan komunitas OpenSource, yang menurut saya, yah gitulah, Indonesia gitu. Inisiatif kominfo bagus, untuk menggabungkan, tetapi like I said to them.. welcome to chicken head world. Memang suka-gak-suka, for business decision we must work together, but in personal matter, itu mungkin kasus lain. Will the link become reality? but who is the leader that can link? esp now, the OSS become a bunch of market that sound $$$ in global (Indonesia?).


Ternyata ada banyak diskusi menarik yang perlu dishare, diluar dari statement kita-kita terhadap pemerintah, tetapi sayang pertemuan masih membahas goverment market, area yang saya tidak sentuh selama 2 tahun terakhir (wanna to be a leader must focus outside indonesian goverment sector). Walaupun kita tahu ini area basah dan 20% pasar IT Indonesia, ranum dan gurih. Tidak perlu deliverable, cash masuk. Apalagi diera pemerintahan sekarang. Makyus. 

Ada 2 hal yang menarik yang membuat saya memblog, hendak menshare dengan rekan-rekan.

1. Pertanyaan rekan kita dari Rumah Ilmu Indonesia yang kita tahu sedang ke sekolah2 dengan Terra Group (Axioo, C-Gear, VisiPro), mengenai susahnya link negara ini terutama pemerintahnya, kadiknas, DPRD, Kelapa Sekolah, khususnya yang negeri, karena harus dari pusat lah, ini lah itu lah, dan ternyata dealnya banyak yang swasta katanya. Tapi untuk lebih jelasnya silahkan tanya ke empunya, ada di FB saya kok. Saya menjawab, yah betul, harus penuh "miracle" untuk dealing dengan goverment kita. Effort yang besar. RII setahu saya juga salah satu yang buat aktifitas sama dengan kita-kita, diatas 8-an tahun. Apakah formula dealing dengan pemerintah adalah urat panjang 8 tahun, hanya untuk sebuah program kecil. Silahkan baca slide dari rekan kita di Bank Indonesia mengenai sebuah ide dari dicetuskan sampai regulasi min 5 tahun, download materilanya di teknopreneur.com, ICT4 Mobile Forum.

2. Enterprise OSS
Senang bertemu pak Bambang dari SI, diskusi berat mengenai perushaan yang terpublikasi sebagai aktif dalam OSS, walaupun ternyata di Enterprise kita kekurangan SDM yang mengerti selain integrasi, juga patch error. Ini sebuah diskusi yang menarik, bagaimana kita menciptakan sebuah ekosistem dari OSS itu sendiri. Dimana saat ini pihak user (perusahaan pemakai), mau untung sendiri, pakai tapi gak ada contribute, terus kalau error, teler, dan mau murah tapi ... hohoho.. this is enterprise market, support sangat diperlukan. Saya senang ternyata area ini sudah mulai tumbuh, dan glad have a lot of experience.. dan gak kerasa di area Enterprise OSS dah mau 11 tahun. Behavior Enterprise yang terkenal mau banyak, rewel, digabungkan dengan ekosistem Indonesia yang sangat tidak kondusif tetapi penuh peluang, merubah sebuah ide harus menjadi multi companies, menciptakan pasar sendiri yang saya melihat vendor ERP, BIS, atau apapun harus merubah skenario lisensinya, dan juga para pengembang aplikasi harus menciptakan aristektur khusus, tapi ternyata kalau dilihat dari market global, a tinny winny company, bukan hughes big market cap. Tragis yah.

Jadi dapat dikatakan Enterprise market di Indonesia ini complex terutama di area yang SME (sudah tahu Indofood aja termasuk SME lo dibandingkan global solution). multicompanies consolidation, distributed warehouse, async transaction. SDM yang buruk, aristektur sistem yang tidak terintegrasi. Yang notabene mulai ada versi OSSnya, tetapi tidak bisa semuanya OSS. Pressure vendor internasional yg memaksa perusahaan kita berkembang pesat atau dimakan oleh lisensi yang mengunci dan memeras. be Capitalist or acquired.. Hal yang tidak biasa buat perusahaan di Indoensia, yang umumnya owner adalah tangan besi dan bekerja sampai hari akhir, alias diteruskan anaknya, masih family business model yang dipush oleh globalisasi untuk jadi professional company.

Menarik kan, kasus diatas, area kosong yang saya jamin belum disentuh selama 8 tahun ini oleh IGOS, yang terlalu focus ke sosiaslisasi, dan selalu dilevel sosialisasi. Pak Kemal sampai buat point yang menarik mengenai kontra dari program IGOS, yaitu kewarasan. Huahua. So 85 entitas pemerintah kalau digrade dalam implementasi OSS, apakah ini sukses, kita lihat di IOSA. Kalau eGov award saja seperti mainan. Tapi jangan prasangka dulu, kita tunggu.. 8 tahun program OSS, yg juara seperti apa sih. Ditengah pemerintah yang memiliki prioritas masing2 yang katanya sih penting dari sisi mereka.

Yah secara asosiasi AOSI, masih jauh dari sebuah asosiasi, apalagi focusnya terlalu goverment, area yg saya sendiri kurang mau dalami, inget 3 tahun lalu "disuruh" invest pegawai untuk PP80 dan tender. Saya blog ini, untuk mengingatkan keputusan ini salah besar atau tidak. Frans melupakan 20% market IT nasional, idiot or smart. Market yang membuat banyak orang kaya raya tanpa berpikir. Apakah idealisme ini make sense.

Yah, kegiatan yang bagi saya adalah makan-makan dan ketemu 4L (lo lagi lo lagi), tapi saya tidak menemukan the power to push the market... we still have a lot of home works. yang saya percaya akan terpecahkan setelah saya mangkat.





Share |
"The World throughs the binary perspective" Name: Frans Thamura
Contact: frans at meruvian dot org
Mobile: +62 855 7888 699
Tweeter: http://twitter.com/fthamura


Donate to Meruvian
Help Indonesia!!





View Frans Thamura's profile on LinkedIn






My Entities:



Search

 

« July 2010 »
SunMonTueWedThuFriSat
    
1
2
3
4
6
7
9
12
13
14
15
16
17
19
20
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
       
Today

Links

Feeds




Navigation