Globalisasi 2.0, Pengalaman dari ODTUG 2010. dan Sekilas mengenai keluarga Chen.
Kesan Pesan Ratno - Jogja
Nama Saya RATNO kemudian berganti nama Dengan RATNO KHOIRUL AZZAM...(nama yang ku ambil dari Firman Allah "faidza 'azzamta fa tawakal 'alallahi"
Saya dari SMK YAPPI Wonosari Gunungkidul . Jurusan Pemanfaatan Tenaga Listrik Tahun 2009.
Kemudian ingin pergi ke malaysia tapi ketika itu di tawarin sama guru saya Pak Choirul Anam nama beliau. untuk ke meruvian.. dengan syarat membawa laptop. setelah kurang lebih 1 bulan mempertimbangkan akhirnya saya ambil tawaran itu.
Dan ketika di meruvian pertama kesannya seperti TERSIKSA.. Yang dulunya gak pernah ngerti java tiap hari (kecuali saat libur ) harus lihatin coding java. Tapi Dengan melihat perjuangan orang tua.. akhirnya aku mulai berjuang... Dan setelah 2 bulan sudah bisa meraba2 dan mengerti.(mengertinya baru sedikit.. bisa di katakan.. di kerak bagian paling bawah.) kemudian setelah 3 bulan saya Resmi bekerja di MERUVIAN YOGJAKARTA. secara terpaksa saya belajar mengurusi sebuah perusahaan orang..walaupun setahu dan semampu saya. dari manajement keuangan, dan juga belajar menjadi seorang yang di tuakan...
Kesan-kesannya :
1. Dengan Di meruvian akan ada banyak pengalaman. Mulai dari pengalaman Marketing. Yang dulunya gak tahu marketing. Dengan menghasilkan 1 x Training. Dan Alhamdulillah lagi.. pas di hari terakhir saat mau ke jakarta ada training lagi 1 x...
2. Bisa berkenalan dengan banyak orang. Bahkan orang tersebut orang besar2. seperti ada dosen AMIKOM, Programer AMIKOM, Seorang pengusaha Program, (PHP, dll) Insya Allah. Teman Programer PHP
3. intinya dari segalah sesuatu yang pahit bisa menjadi manis gara2 sebuah niat. Dan Terima kasih ku ucapakan ke pada Bapak Frans Thamura. Yang dulu telah mempercayai saya untuk di JOGJA. kemudian membawa saya ke jakarta. Dan menempatkan saya di kantor MMI yang orang2 baik2.
4. ku ucapkan terima kasih juga kepada Bapak Choirul Anam yang telah memberikan menganjurkan saya untuk ke Meruvian. Dan memberi kepercayaan untuk mencoba.
5. kepada bapak dan ibu yang telah mensupport.
Pesan bagi Semua.:
1. Memang Yang punya MERUVIAN (Bapak Frans Thamura) orangnya agak keras. Tapi di balik itu semua.. pasti ada maksud.. tapi yang terpenting adalah managemetn diri.. bagaimana menghadapi orang.. walaupn sekarang saya belum bisa.. tapi saya ingin belajar.. untuk seperti itu..
Tapi Beliau juga tetap Baik. Dan saya percaya semua orang punya HATI sehingga mempunyai kemungkinan untuk menjadi baik.
2. Bagi teman2 yang kadang cerita sama saya bahwa Dirinya takut kalau mau bekerja di perusahaan yang besar atau perusahaan yang belum pernah belajar bahas pemrogramannya. jangan takut. karena setiap perusahaan akan mengajari kita. Dan tidak mungkin akan melepas kita begitu saja.
3. Bagi teman SMK yang mempunyai jiwa untuk maju yang besar.. Silahkan mencoba datang ker MERUVIAN ... Tapi harus membawa hati yang Ikhlas., Sabar.. Dan menerima. Dan tidak takut untuk mencoba.
4.Dan 1 lagi.. Semua punya pilihan... silahkan memilih dengan mempertimbangkan sisi baik dan buruk.. apa keuntungannya dan apa kerugiannya.. dan pasti semuanya ada 2 sisi itu.. Dan silahkan di timbang-timbang... Dan belajar menjadi orang yang dewasa..
5. Jika memilih meruvian... Insya Allah bertemu saya.. :)
New, Midas Series Training : Blackberry & Android
Meruvian as Microsoft Bizspark Network Partner
Congratulations! You are now enrolled as a BizSpark Network Partner!
For information about getting started please visit the BizSpark web site, log on with your Windows Live ID, and open the BizSpark Network Partner User Guide. This document includes details about next steps, setting up a link from your web site to the BizSpark Startup Enrollment page, and more.
If you have any questions, please contact us. Well be happy to help. (This message comes from an unmonitored alias. Please do not reply directly.)
The BizSpark Team
Microsoft Corporation
One Microsoft Way
Redmond, WA 98052
Meruvian as Microsoft Bizspark Network Partner
Congratulations! You are now enrolled as a BizSpark Network Partner!
For information about getting started please visit the BizSpark web site, log on with your Windows Live ID, and open the BizSpark Network Partner User Guide. This document includes details about next steps, setting up a link from your web site to the BizSpark Startup Enrollment page, and more.
If you have any questions, please contact us. Well be happy to help. (This message comes from an unmonitored alias. Please do not reply directly.)
The BizSpark Team
Microsoft Corporation
One Microsoft Way
Redmond, WA 98052
Peran Kampus Sebagai Produsen Pengusaha
Jakarta - Pengusaha Ciputra mengatakan akar musabab kemiskinan di Indonesia bukan semata akibat akses pendidikan. Hal itu hanya sebagian. Melainkan karena negara tidak menumbuhkembangkan entrepreneurship dan jiwa entrepreneur dengan baik pada masyarakatnya.
Pendidikan Tinggi Indonesia lebih banyak menciptakan sarjana pencari kerja. Bukan pencipta lapangan kerja. Itu membuat masyarakat Indonesia terbiasa makan gaji sehingga tidak mandiri dan kreatif. Selama ini negara hanya mencetak begitu banyak sarjana yang hanya mengandalkan kemampuan akademisnya. Tetapi, tidak mampu menjadikan mereka lulusan yang kreatif.
Hal ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi perekonomian bangsa. Dengan banyaknya sarjana yang menjadi perkerja dibanding menciptakan lapangan pekerjaan. Sehingga, membuat jumlah pengusaha di Indonesia tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Padahal kemakmuran suatu negara dipengaruhi oleh jumlah pengusaha yang dimiliki oleh negara tersebut.
Menurut sosiolog Dr David McClelland dari Harvard dalam bukunya "The Achieving Society (Van Nostrand, 1961), suatu negara dapat mencapai kemakmuran jika 2% dari jumlah penduduknya menjadi pengusaha. Dengan demikian Indonesia membutuhkan 5 juta dari 230 juta penduduknya untuk menjadi pengusaha.
Namun, ternyata angka itu masih jauh dari harapan. Jumlah pengusaha Indonesia saat ini adalah sekitar 400.000 pengusaha. Dengan kata lain "hanya" 0,18% dari jumlah penduduk Indonesia. Di samping itu, kebanyakan usaha yang ada di Indonesia masih bersifat mikro (UMKM) sehingga tidak memberikan peluang terbukanya lapangan pekerjaan yang besar.
Pertanyaan besarnya adalah siapa yang bertanggung jawab dalam menumbuhkembangkan jiwa entrepreneur di Indonesia. Mungkin kita akan berteriak bahwa pemerintahlah yang bertanggung jawab dengan hal ini. Melalui kebijakan yang pro terhadap industri dalam negeri, pemudahan pendapatan kredit usaha, penurunan nilai suku bunga, serta mendorong sektor riil (industri manufaktur) sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.
Kebijakan di atas untuk mewujudkan dibutuhkan pasokan sumber daya manusia yang memiliki jiwa enterpreuner sebagai cikal bakal pengusaha. Di sinilah sebenaranya peran Kampus dalam menciptakan pengusaha-pengusaha baru. Para sarjana pencipta lapangan pekerjaan.
Sayangnya sampai saat ini perguruan tinggi belum mampu melaksanakan peran tersebut dengan baik. Terbukti dari hasil statistik BPS mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2009 mencapai 9.259.000 orang. Dari jumlah itu jumlah pengangguran dengan pendidikan universitas mencapai 626.600 orang, diploma sebesar 486.400 orang.
Ada sekitar 1,1 juta penganggur terdidik dan jumlah ini akan terus membengkak setiap tahunnya. Semakin membengkaknya lulusan perguruan tinggi yang menganggur semakin menunjukkan bahwa ketersediaan lapangan kerja yang sangat terbatas.
Penyebab tingginya jumlah sarjana yang mencari pekerja salah satunya adalah mindset yang masih menganggap bahwa setelah lulus hanya mencari kerja dengan ekspektasi bekerja di tempat yang bagus dan mendapatkan gaji yang besar. Tapi, realitas yang dihadapi tidak demikian. Karena, itu mindset setiap lulusan, orang tua, dan masyarakat mulai saat ini perlu diubah. Bahwa lulusan perguruan tinggi ke depan yang berhasil adalah mereka yang mampu menciptakan lapangan kerja baru. Bukan mencari kerja.
Selain itu kurikulum yang belum banyak memperkenalkan sisi entrepreneur. Karena entrepreneur sendiri masih dianggap bukan tujuan utama dari dunia pendidikan kita. Kesiapan memasuki dunia kerja lebih dikedepankan. Akibatnya tidak ada link and match antara dunia pendidikan dan dunia entrepreneur yang paling banyak kesempatannya. Dan, disinilah peran perguruan tinggi dalam mengubah mindset dan menumbuhkembangkan jiwa entrepreneur.
Semakin banyak orang yang memiliki jiwa enterpreneur akan mampu melahirkan banyak pengusaha. Semakin banyak pengusaha akan semakin banyak lapangan pekerjaan. Semakin banyaknya lapangan pekerjaan memudahkan rakyat memilih pekerjaan yang paling disukai dan cocok dengan keahliannya. Juga memilih perusahaan yang mampu memberikan pelayanan dan kesejahteraan yang terbaik.
Pada akhirnya perguruan tinggilah yang bertanggung jawab menghasilkan manusia-manusia berjiwa enterpreuner yang siap menjawab seluruh tantangan zaman dan cinta pada tanah airnya. Semoga.
Gesa Falugon
Jalan Tubagus Ismail 8 No 62A Bandung
gesafalugongesa@yahoo.com
085691604748
Penulis adalah Sekjend Keluarga Mahasiswa Islam ITB 2009.
source: http://suarapembaca.detik.com/read/2010/03/09/182820/1314807/471/peran-kampus-sebagai-produsen-pengusaha#882205470
Kualitas Pendidikan Tinggi Indonesia Tertinggal Jauh
JAKARTA, KOMPAS.com - Perguruan-perguruan tinggi di Indonesia perlu melakukan kerjasama internasional dengan universitas di luar negeri Selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas, hal itu juga demi daya saing.
Sampai saat ini, belum ada lembaga pendidikan di Indonesia yang masuk dalam kategori 200 universitas terbaik dunia versi lembaga pemeringkat ternama The Times Higher Education-QS World University (The-QS World University).
Sementara itu, Global Competitiveness Report 2009/2010, yang antara lain menilai tingkat persaingan global suatu negara dari kualitas pendidikan tingginya, pun cuma menempatkan Indonesia di peringkat ke-54 dari 133 negara, yaitu di bawah Singapura (3), Malaysia (24), Cina (29),Thailand (36), serta India (49). Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, jumlah sarjana yang belum bekerja per Februari 2009 hampir mencapai 13% dari total jumlah penganggur, atau sekitar 1,2 juta orang.
Menurut Country Director British Council Indonesia Keith Davies dalam seminar membahas peluang dan tantangan kerjasama internasional di Jakarta, Sabtu lalu (14/11), kerjasama antara universitas di Indonesia dengan perguruan tinggi luar negeri yang lebih berpengalaman bisa dilakukan melalui Double Degree, Franchise atau Staff Exchange.
Sayangnya, di kata dia, bidang ini pun Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangganya. Sebuah penelitian di Inggris menemukan, saat ini terdapat 270,000 mahasiswa asing yang mengambil double degree di sana. Dari jumlah itu, Malaysia, Singapura, Hongkong, dan India menyumbang hampir setengahnya.
Kesiapan universitas
Mahasiswa asing yang universitasnya menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi Inggris bisa meraih diploma ganda sekaligus mendapatkan salah satu pendidikan terbaik di dunia. Menurut The-QS World University, peringkat 5 besar universitas terbaik dunia saat ini didominasi oleh 4 perguruan tinggi Inggris yaitu University of Cambridge, University College London, Imperial College London, dan University of Oxford.
Untuk itulah, lanjut Davies, mulai tahun depan pemerintah Inggris melalui British Council menyediakan bantuan "Prime Minister Initiative 2: Collaborative Programme Delivery" hingga sebesar 1,2 juta poundsterling bagi perguruan tinggi di Indonesia. Dana itu, kata dia, dipergunakan untuk membangun kerjasama internasional hingga dua tahun berikutnya.
Sejak dicanangkan pada 2006 lalu, program Prime Minister Initiative ini berhasil membiayai 235 kerjasama penelitian, pelatihan dosen, pertukaran mahasiswa, dan beasiswa antar universitas di seluruh dunia.
"Melalui kemitraan ini kami berharap dapat mewujudkan internasionalisasi dunia pendidikan yang lebih luas lagi. Program ini sebagai pembuka jalan untuk kemitraan antar lembaga pendidikan kedua negara," ujar Davies.
Dia menambahkan, sudah ada beberapa perguruan tinggi yang sukses membangun kerjasama dengan Inggris. Sebutlah misalnya, kata dia, Universitas Bina Nusantara yang bekerjasama dengan Northumbria University untuk Design Studies dan dengan Bournemouth University untuk Tourism & Hospitality. Contoh lainnya adalah Universitas Indonusa Esa Unggul, yang bermitra dengan Heriot Watt untuk Management Programme.
Mahasiswa jurusan desain Bina Nusantara, ujar Keith, bisa belajar dan mendapatkan gelar dari Northumbria, --kampus yang menelorkan Jonathan Ives, si perancang iPod dan iPhone yang tersohor itu. Sementara itu, mahasiswa di bidang pariwisata pun bisa mendapatkan gelar dari Bournemouth yang belum lama ini menginvestasikan 1.5 juta poundsterling untuk fasilitas teknologi komunikasi dan informasinya.
Menanggapi hal itu, Dekan Program Binus Internasional Minaldi Loeis mengatakan, bahwa segalanya kembali pada pengelola lembaga pendidikan itu sendiri.
Tantangannya justru ada pada kesiapan universitas dalam menjalankan visi, komitmen, pemasaran, serta manajemen programmya, tutur Loeis.
Dia menambahkan, biaya sebetulnya bukan menjadi kendala. Walaupun Binus menaikkan biaya pendidikan internasionalnya hingga 10 persen demi menjaga kualitas, lanjut Loeis, jumlah mahasiswa yang mendaftar setiap tahunnya mengalami kenaikan antara 10 sampai 20 persen.
LTF
Editor: latief
source: http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/11/16/12133939/kualitas.pendidikan.tinggi.indonesia.tertinggal.jauh

Kualitas Pendidikan terbaik di Dunia Inbox X
Finlandia. Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for
Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.
Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.
Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?
Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.
Apa gerangan kuncinya?
Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!
Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.
Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.
Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.
Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.
Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.
(FB/Coki, worldchanging. com)

Lulusan Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Jadi Pencari Kerja
Sampai saat ini, sebanyak 82,2 persen lulusan perguruan tinggi bekerja sebagai pegawai. Adapun masa tunggu lulusan perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan selama enam bulan hingga tiga tahun.
Pengangguran terdidik pun tidak terhindarkan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada Februari 2008 tercatat 9,43 juta penganggur atau sebanyak 8,46 persen dari total penduduk. Pengangguran di tingkat SD-SMP berjumlah 4,8 juta orang, sedangkan di jenjang SMA-universitas mencapai 4,5 juta orang.
Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, di Jakarta, Jumat (11/9), mengatakan tingginya jumlah pengangguran berpendidikan tinggi menunjukkan proses pendidikan di perguruan tinggi kurang menyentuh persoalan-persoalan nyata di dalam masyarakat. Perguruan tinggi belum bisa menghasilkan lulusan yang mampu berkreasi di dalam keterbatasan dan berdaya juang di dalam tekanan.
Rata-rata lama bersekolah mestinya linear dengan pendapatan. Tetapi di Indonesia tidak demikian. Persoalan ini mesti serius diatasi. Salah satunya dengan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan di kampus-kampus supaya para sarjana tidak berpikri hanya berburu pekerjaan, tetapi menciptakan peluang berusaha karena sudah dilatih di kampus, kata Fasli.
Utamakan kewirausahaan
Ciputra, pengusaha dan pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC), mengatakan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan mesti jadi fokus juga yang perlu mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah. Dengan tumbuhnya jiwa kewirausahaan dalam berbagai sektor, generasi muda Indonesia mampu membawa perubahan bangsa karena selalu mencari peluang untuk memakmurkan bangsa.
Fasli mengatakan adanya pengalaman berwirausaha selama di perguruan tinggi minimal dua tahun bisa memudahkan lulusan perguruan tinggi untuk bisa mengembangkan usahanya di kemudian hari. Termasuk juga terbukanya peluang untuk mendapatkan kucuran kredit usaha dari pemerintah.
Dengan gencarnya pendidikan kewirausahaan, baik yang diintergrasikan dalam kurikulum, maupun kegiatan kemahasiswaan, pada tahun 2014 ditargetkan sebanyak 20 persen lulusan perguruan tinggi berhasil menjadi entrepreneur. Penciptaan komunitas entrepreneur dari kalangan dosen dan lulusan perguruan tinggi ini ditargetkan bisa mempercepat penambahan jumlah wirausahawan Indonesia yang saat ini baru berjumlah 0,18 persen dari idealnya dua persen yang dibutuhkan untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi bangsa.
Source: http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/09/11/20374961/lulusan.perguruan.tinggi.hanya.berorientasi.jadi.pencari.kerja

Kesenjangan Sekolah dan Industri Harus Diminimalkan
Demikian dikemukakan Joko Sanyoto, Marketing Director Toyota Astra Motor dalam acara peluncuran Toyota Technical Education Program (T-TEP) di SMKN 2 Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/8). Acara dihadiri Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Paduka Pakualam IX.
"Gap antara kebutuhan dunia usaha dan industri yang tidak nyambung mesti dikurangi. Dunia industri berkepentingan karena mereka butuh teknisi yang siap pakai dan terampil. Sekolah juga butuh kerjasama dengan industri supaya lulusannya mampu beradaptasi dan diterima di dunia kerja," kata Joko.
Kerjasama industri dan sekolah ini sudah dilakukan Toyota Motor Astra dengan mengembangkan program T-TEP sejak tahun 1993. Hingga saat ini sudah terbentuk 5 SMK T-TEP dan 38 SMK sub T-TEP di seluruh Indonesia. Sebanyak 60 persen lulusan SMK yang dibina lewat program T-TEP diserap sebagai tenaga kerja di Toyota di seluruh Indonesia. Program ini menelan biaya Rp 1 Miliar.
"Selama ini program keahlian yang diajarkan adalah general repair. Tetapi ternyata ada kebutuhan body and paint atau perbaikan body dan pengecatan mobil. SMKN 2 Sleman ini dijadikan T-TEP Body and Paint pertama di Indonesia. Kita harus bangga karena program ini baru di tiga negara yang dilakukan Toyota, yakni di Thailand, China, dan Indonesia," kata Joko.
Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, lulusan SMK juga harus mampu mengisi kebutuhan tenaga kerja khusus. Keahlian body and paint merupakan peluang bagi siswa SMK untuk menciptakan dan mengisi lapangan kerja yang masih terbuka.
Kepala Sekolah SMKN 2 Sleman Ibnu Subiyanto mengatakan, siswa program otomotif sangat terbantu dengan kerjasama Depdiknas-Toyota untuk meningkatkan kompetensi guru dan siswa. Peluang ini akan dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu dan kompetensi lulusan siswa di sekolah yang lulus dalam empat tahun ini.
Source: http://edukasi.kompas.com/read/xml/2008/08/23/16535547/kesenjangan.sekolah.dan.industri.harus.diminimalkan

Mendiknas: Reformasi Pendidikan Bisa Dinikmati 2014/2015
Hal tersebut dikatakan oleh Mendiknas di acara Silaturahmi Mendiknas dengan para Penerima Penghargaan Keteladanan Bidang Pendidikan 2009, di Jakarta, Sabtu (15/7). Mendiknas Bambang mengatakan, reformasi sudah dilakukan oleh Depdiknas di seluruh aspek pendidikan nasional, mulai dari kurikulum, guru, sarana dan prasarana, proses pembelajaran, manajemen satuan pendidikan, dan lain-lainnya.
"Semuanya sudah kita sentuh dengan reformasi pendidikan dengan harapan menjadikan bidang pendidikan sebagai lokomotif bagi kemajuan negara ini," ungkap Mendiknas kepada para wartawan.
Dengan reformasi tersebut, kata Mendiknas, dalam era kabinet Indonesia Bersatu para guru telah mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Hal itu dimulai dari pencanangan oleh Presiden RI tentang Guru sebagai Profesi pada 2 Desember 2004. Setahun kemudian, lahir Undang-Undang Nomor 14 tentang Guru dan Dosen, yang diikuti pula dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2005 tentang Guru, PP Nomor 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru, Tunjangan Profesi Dosen, Tunjangan Khusus bagi Guru yang Bertugas di Daerah Khusus dan Tunjangan Kehormatan bagi Guru Besar.
"Kita lipatkan asas pendidikan sesuai paradigma pendidikan nasional, yaitu sebagai pembelajaran bahwa dari menteri sampai anak didik adalah ingin belajar, belajar hingga akhir hayat," tandas Mendiknas.

Disparitas Kualitas Pendidikan Lebar
Jakarta, Kompas - Disparitas kualitas sekolah di Tanah Air masih besar, terutama antara sekolah yang berada di Pulau Jawa dan sekolah di luar Jawa. Pemerintah dan penyelenggara pendidikan perlu bekerja keras memenuhi standar nasional untuk meningkatkan kualitas sekolah.
Besarnya disparitas atau perbedaan kualitas pendidikan antara lain tergambar dalam hasil akreditasi Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah atau BAN S/M terhadap sebagian sekolah sepanjang tahun 2007.
Pada tahun tersebut BAN S/M mengakreditasi 57.292 sekolah, baik negeri maupun swasta, di setiap jenjang dan madrasah. Total jumlah sekolah dan madrasah di seluruh jenjang sekitar 270.000 satuan pendidikan.
Sebagai cukilan gambaran, terlihat sekolah yang terakreditasi dengan nilai A (sangat baik) persentase terbesarnya terdapat di Provinsi DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat. Di provinsi-provinsi tersebut persentase sekolah yang mendapatkan akreditasi A relatif besar, yakni 35-48 persen dan nilai C tidak mencapai 10 persen.
Sebaliknya yang terjadi di provinsi seperti Maluku, Sulawesi Barat, Bengkulu, Nanggore Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Papua. Di kawasan-kawasan tersebut, persentase sekolah yang mendapatkan akreditasi C terbilang tinggi, yakni 40-55 persen dan persentase sekolah dengan akreditasi A sangat rendah, yakni tidak mencapai 10 persen.
Hasil akreditasi tersebut tentu saja dipengaruhi oleh jumlah sekolah yang diakreditasi dan berbagai faktor lainnya. Namun, sebagai perbandingan, di antara provinsi dengan jumlah sekolah peserta akreditasi tidak terpaut jauh tetap terjadi perbedaan.
Di DKI Jakarta misalnya terdapat total 869 sekolah dan madrasah di jenjang pendidikan dasar (TK, SD, dan SMP sederajat) yang diakreditasi. Hasilnya, hanya 4,1 persen mendapat akreditasi C. Selebihnya, yakni 45,9 persen sekolah, memperoleh akreditasi B dan 48,1 persen berakreditasi A.
Adapun untuk jenjang pendidikan menengah tinggi (SMA sederajat) terdapat 321 sekolah yang diakreditasi. Hasilnya, cuma 3,1 persen yang mendapatkan akreditasi C. Sisanya, 28,0 persen, mendapatkan akreditasi B dan 57,6 persen mendapatkan akreditasi A.
Kondisi sebaliknya terjadi di Provinsi Maluku. Dari 798 sekolah dan madrasah yang diakreditasi di seluruh jenjang, sebesar 59,3 persen mendapatkan akreditasi C. Selebihnya, 24,7 mendapatkan akreditasi B dan hanya 2,0 persen memperoleh akreditasi A.
Untuk perencanaan
Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia yang juga mantan pimpinan lembaga akreditasi terdahulu, Soedijarto, mengatakan, akreditasi diadakan agar pemerintah mengetahui peta kondisi pendidikan sesungguhnya. Hasil akreditasi itu dibutuhkan untuk perencanaan dan mengambil langkah konkret.
Kepala BAN S/M Umaedi mengatakan, hasil akreditasi memberikan gambaran kondisi sekolah. BAN S/M menetapkan standar-standar kelayakan yang diturunkan dari standar nasional pendidikan.
Standar nasional pendidikan tersebut mencakup delapan aspek, yakni standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, serta penilaian pendidikan. (INE)
Source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/02/00244550/disparitas.kualitas.pendidikan.lebar

Mahasiswa Kesulitan Magang, Perusahaan Perlu Tingkatkan Kepedulian
Jakarta, Kompas -
Baru sekitar 25 perusahaan atau industri besar sejak tahun 1997 hingga sekarang yang mendukung program cooperative academic education (co-op) yang dikembangkan Departemen Pendidikan Nasional sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi.
Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, di Jakarta, Jumat (18/9), mengatakan, ada kendala untuk menerima mahasiswa bekerja di perusahaan karena umumnya mahasiswa tidak mempunyai keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Akibatnya, sumber daya perusahaan terkuras untuk pelatihan mahasiswa yang magang.
Program co-op beda dengan magang biasa. Dalam program ini, mahasiswa bekerja sesuai kebutuhan nyata dunia kerja selama 3-6 bulan. Mahasiswa pun diseleksi perguruan tinggi dan perusahaan, kata Fasli Jalal.
Agar program ini terus berjalan dan bisa berkembang, lanjut Fasli, penyiapan mahasiswa nantinya akan dilakukan di perguruan tinggi dengan dukungan dana dari Depdiknas. Dengan demikian, lulusan program ini punya daya saing di pasar kerja.
Terbatasnya dukungan perusahaan menyebabkan hanya sekitar 50-70 mahasiswa yang mengikuti program ini setiap tahunnya. Oleh karena itu, agar program bisa tetap berjalan, Depdiknas mulai melirik usaha kecil dan menengah (UKM).
Program co-op di perusahaan UKM itu mampu meningkatkan jumlah mahasiswa yang bekerja secara nyata di perusahaan. Mahasiswa yang ikut dalam program itu dilatih terlebih dahulu sebagai bagian kesepakatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas dengan Kantor Deputi Sumber Daya Manusia Kementerian Negara Urusan Koperasi dan UKM.
Hingga tahun lalu sebanyak 647 UKM terlibat. Mahasiswa yang bisa mengikuti program itu mencapai 1.800 orang dari 32 perguruan tinggi.
Keterlibatan mahasiswa dalam program co-op UKM itu justru menantang mahasiswa untuk bisa mengembangkan perusahaan UKM tersebut, yang umumnya masih terbatas dari segi permodalan. Bahkan, mahasiwa diharapkan bisa belajar berwirausaha, mengembangkan kreativitas, dan memiliki daya juang tinggi atau tidak putus asa.
Rizky Wisnoentoro, Koordinator Pusat Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations, Jakarta, yang tengah studi soal tanggung jawab sosial perusahaan, mengatakan, kesadaran untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan, seharusnya bisa tumbuh di setiap perusahaan besar dan kecil di Indonesia. Kesadaran itu harus terus ditumbuhkan, kata Rizky.
Source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/19/04370095/mahasiswa.kesulitan.magang

Sun dan Meruvian Resmikan SMTC
"Pusat inkubator ini diharapkan dapat mengurangi gap antara para lulusan sekolah dengan dunia industri," kata Wibisono Gumulya, Presdir PT Sun Microsystems Indonesia, sebelum penandatanganan nota kesepahaman MoU dengan Frans Thamura, pendiri Meruvian, Selasa (8/9) di Jakarta.
Wibisono menjelaskan, ide dari program ini adalah bagaimana menggabungkan lulusan universitas terhadap pasar, khususnya industri TI, yakni sebagai jembatan. Sejak masih menjadi mahasiswa, kata Wibi, mereka digembleng untuk meningkatkan kompetensinya di bidang TI, sehingga bisa diserap pasar kerja.
"Mereka bisa create satu aplikasi, sehingga bisa digunakan kalangan industri. Mereka juga bisa menghasilkan produk lokal. Sedangkan Sun mem-back up dari segi teknologinya," tambah Wibi.
Sementara itu, Frans Thamura mengatakan, karena bakal banyaknya mahasiswa dan juga siswa SMK yang dididik di SMTC, kemungkinan mereka tak bisa semuanya diserap pasar kerja.
"Mereka mau tak mau, harus berani menjadi wirausahawan di bidang TI," ujar Frans. "Makanya, biar mereka masih berusia muda, sekitar 17 tahunan, mereka harus berani melakukan presentasi di depan klien," tambahnya. Sehingga, kata Frans, program yang menggunakan teknologi open source (penggunaan software secara gratis, tanpa harus membayar lisensi) dari Sun Microsystems ini --seperti Java, MySQL, dan OpenSolaris-- bisa menciptakan entrepreneur-entrepreneur muda.
Frans berharap, hingga akhir 2009 ini, pusat inkubator SMTC akan memiliki kerja sama dengan empat institusi industri, intership program dengan enam institusi edukasi, mendirikan dua tempat inkubator di Yogyakarta dan Jakarta, serta program technopreneurship yang melibatkan institusi pendidikan untuk mengerjakan aplikasi software berbasis open source sebanyak dua aplikasi.
Selain pendirian pusat inkubator berbasis open source SMTC, Sun Microsystems juga secara berkelanjutan mendukung penggunaan open source, antara lain melalui program JENI (Java Education Network Indonesia) pada Agustus 2007, yang didukung Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dan pendirian COSTA (Center for Open Source Technology Awakening) bersama Kementrian Ristek pada 2008, serta yang terbaru, pendirian COSTA bersama Departemen Perindustrian (Depperin) pada Juni 2009.
SMTC didirikan untuk merangsang penerapan best practices dan teknologi open source yang dibutuhkan dunia industri, sehingga pengguna teknologi open source dapat menerapkan teknologi ini yang telah menjadi standar kebutuhan di setiap industri.
Sementara itu, program JENI ditujukan untuk merangsang pergerakan open source di dunia pendidikan dan komunitas dengan memanfaatkan berbagai program, seperti OSUM (Open Source University Meetup), OpenSolaris UserGroup Indonesia, dan MySQL.
Di sektor pemerintahan, Sun Microsystems mendorong penerapan teknologi open source dengan pendirian COSTA bersama Ristek dan Depperin. Pendirian berbagai pusat inkubator dan inisiatif ini untuk mendorong penggunaan open source, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas SDM Indonesia, sehingga bisa meningkatkan daya saing. [TMA]

Ciputra: Kita Terlalu Banyak Ciptakan Sarjana Pencari Kerja!
